Hati-hati! Ada Playboy Fii Sabilillah
Assalamu’alaikum
Sahabat Baperian, tidak asing lagi di telinga kita istilah jomblo fii sabilillah. Sudah banyak saudara kita atau bahkan kamu juga ikut mendeklarasikan status kejombloan bertitle fii sabilillah ini. Sebuah title yang bukan sembarang title, namun yang juga sebagai prinsip, pijakan, dan dayung dalam mengarungi arus jomblo di akhir zaman. (kok alay)

PlayBoy fii Sabilillah via MuslimBaper.web.id
Apa itu playboy fii sabilillah?
Sebenarnya tidak pantas kata fii sabilillah disandingkan dengan kata playboy, karena hakikatnya seorang playboy tidak mungkin berada di jalan Allah. Namun, berhubung istilah ini sudah dimunculkan dan menyebar di masyarakat kita, maka kita harus tahu apa hakikat dari gelaran buruk ini.
Baca juga : Hakikat Pacaran dan Rahasia Dibaliknya
Sedikit berbeda dengan playboy pada umumnya, playboy fii sabilillah adalah istilah untuk para Ikhwan yang ‘katanya’ tahu agama, namun masih saja menjalin hubungan haram (pacaran) dengan para perempuan yang bukan haknya. Bukan hanya satu perempuan, tapi bisa dua atau bahkan lebih sebagaimana playboy pada umumnya.
Lalu apa perbedaanya?
Di sini mereka gunakan kata ‘fii sabilillah’, karena Ikhwan ini biasanya tidak mau menyebut hubungannya sebagai pacaran (padahal sebenarnya iya). Perempuan yang mereka dekati pun bukan perempuan biasa, tapi para akhwat yang rajin ta’lim, berhijab syar’i, ataupun yang baru hijrah.
Cara mendekatinya pun pakai teknik ‘syariah’, yaitu dengan quotes pernikahan, nasehat bijak, atau modus tanya kabar orang tua, dan lain sebagainya. Ketika awal PDKT, panggilannya hanya sekedar ‘Ukhty’, namun ketika semakin dekat dan sang akhwat sudah terjatuh dalam jebakannya, panggilannya pun berubah menjadi ‘Habibaty’, ‘Humaira’, atau bahkan ‘Zaujaty’. (padahal nikah aja belum)
Ciri-ciri playboy fii sabilillah
Ada beberapa cara untuk mendeteksi Ikhwan seperti ini, salah satunya dengan dilihat dari ciri-cirinya:
1. Dekat dengan banyak akhwat non mahram.
2. Sering memberikan quotes atau gombalan bernuansa Islami, misal tentang khitbah, nikah, atau tentang suami istri idaman kepada akhwat non mahram.
3. Tidak berani menikahi.
4. Mengumbar janji-janji manis.
5. Sering menanyakan kabar secara tidak langsung (lewat chat atau telepon) kepada akhwat non mahram.
Itulah beberapa ciri playboy fii sabilillah. Bahayanya, ikhwan seperti ini juga menyusup di ta’lim, atau komunitas Islam, dengan tujuan untuk mencari akhwat yang ia sukai. Dan praktik seperti ini jelas tidak dibenarkan, walau ada embel-embel fii sabilillah.
Maka, berhati-hatilah dari Ikhwan seperti ini. Dan untuk sahabat Ikhwan, jaga dirimu dari gelar buruk ini, karena Demi Allah ini tidak membuatmu terlihat tangguh, namun justru membuatmu rendah dan kehilangan kehormatan.
Wallahu a’lam
Wassalamu’alaikum
Hati-hati! Ada Playboy Fii Sabilillah
By Unknown
Hukum Cinta pada Pandangan Pertama
Assalamu'alaikum
Sahabat, cinta adalah fitrah kita sebagai manusia. Tapi dari mana datangnya dan bagaimana menanggapinya, itu adalah hasil dari usaha kita. Maka muncul istilah cinta pada pandangan pertama. Entah dari mana cinta itu datang, kita mengaku merasakan itu secara tiba-tiba, tanpa peringatan ataupun sambutan. Membuat bingung, galau, dan senantiasa terbayang sosok yang bahkan belum terlalu kita kenal.
Cinta pada pandangan pertama
Banyak dari kita yang mengaku merasakan cinta pada pandangan pertama. Tatkala melihat lawan jenis yang rupawan, kita berani mengklaim bahwa kita merasakan cinta kepadanya, hanya karena rasa aneh di dalam hati kita. Dari sinilah kita bisa jabarkan beberapa hal:
1. Perintah untuk menundukkan pandangan
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
Kita diperintahkan menundukkan pandangan, karena mata adalah salah satu jalan sampainya fitnah ke dalam diri kita. Apalagi di zaman sekarang, banyak sekali fitnah yang berserakan di kehidupan kita. Maka, menjaga pandangan, termasuk dari melihat lawan jenis yang menarik perhatian, sangat ditekankan agar kita terhindar dari fitnah yang begitu nyata. Cinta pada pandangan pertama, adalah hasil dari kegagalan kita menjaga pandangan.
2. Perasaan itu bukanlah cinta!
Setelah kita lalai dalam menjaga pandangan, ada saatnya kita merasakan sesuatu dalam hati ketika melihat seseorang yang belum kita kenal untuk pertama kalinya. Lalu kita mengira rasa itu adalah bentuk cinta, cinta pada pandangan pertama. Di sinilah kesalahan terbesar kita, karena wallahi, itu bukanlah cinta! Itu adalah gejolak syahwat yang tidak bisa kita kendalikan. Lalu kenapa kita mengira itu adalah cinta? Itu karena syaithan telah membisiki kita, menipu dan mempovokasi dengan kata-kata manis dan cocok di hati dan pikiran. Jadilah kita membuat konsep cinta yang salah, dan pasti itu akan menjerumuskan jika kita tidak segera menyadarinya.
Renungkan ayat berikut:
Cinta sejati, adalah cinta yang Allah jadikan setelah menikah. Bukan dari liarnya mata dalam memandang, ataupun rayuan indah seseorang yang tidak kita kenal. Karena sejatinya, tidak ada cinta pada pandangan pertama. Tapi, cinta yang dibangun pada janji suci pernikahan.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
Assalamu'alaikum
Sahabat, cinta adalah fitrah kita sebagai manusia. Tapi dari mana datangnya dan bagaimana menanggapinya, itu adalah hasil dari usaha kita. Maka muncul istilah cinta pada pandangan pertama. Entah dari mana cinta itu datang, kita mengaku merasakan itu secara tiba-tiba, tanpa peringatan ataupun sambutan. Membuat bingung, galau, dan senantiasa terbayang sosok yang bahkan belum terlalu kita kenal.
Cinta pada pandangan pertama
Banyak dari kita yang mengaku merasakan cinta pada pandangan pertama. Tatkala melihat lawan jenis yang rupawan, kita berani mengklaim bahwa kita merasakan cinta kepadanya, hanya karena rasa aneh di dalam hati kita. Dari sinilah kita bisa jabarkan beberapa hal:
1. Perintah untuk menundukkan pandangan
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذٰلِكَ أَزْكٰى لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
(QS. An-Nur: 30)
2. Perasaan itu bukanlah cinta!
Setelah kita lalai dalam menjaga pandangan, ada saatnya kita merasakan sesuatu dalam hati ketika melihat seseorang yang belum kita kenal untuk pertama kalinya. Lalu kita mengira rasa itu adalah bentuk cinta, cinta pada pandangan pertama. Di sinilah kesalahan terbesar kita, karena wallahi, itu bukanlah cinta! Itu adalah gejolak syahwat yang tidak bisa kita kendalikan. Lalu kenapa kita mengira itu adalah cinta? Itu karena syaithan telah membisiki kita, menipu dan mempovokasi dengan kata-kata manis dan cocok di hati dan pikiran. Jadilah kita membuat konsep cinta yang salah, dan pasti itu akan menjerumuskan jika kita tidak segera menyadarinya.
Renungkan ayat berikut:
وَمِنْ ءَايٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذٰلِكَ لَءَايٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
(QS. Ar-Rum: 21)
Cinta sejati, adalah cinta yang Allah jadikan setelah menikah. Bukan dari liarnya mata dalam memandang, ataupun rayuan indah seseorang yang tidak kita kenal. Karena sejatinya, tidak ada cinta pada pandangan pertama. Tapi, cinta yang dibangun pada janji suci pernikahan.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
Hukum Cinta pada Pandangan Pertama
By Unknown
Ibadah Itu yang Mainstream Aja! (Part 2)
Assalamu'alaikum
Alhamdulillah, artikel ini adalah kelanjutan artikel kita sebelumnya : Ibadah Itu yang Mainstream Aja! (Part 1)
Bahaya Ibadah Anti-Mainstream (Bid'ah):
1. Ditolak amalannya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Bukankah suatu kerugian yang besar sahabat, tatkala kita sudah capek-capek beramal, eh, ternyata amalan tersebut ditolak alias sia-sia. Bukankah jauh lebih baik kita gunakan waktu itu mengamalkan ibadah-ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam? Maka berhati-hatilah wahai sahabat, karena ibadah bukan yang penting baik, tapi harus ada nash yang berbicara akan hal itu.
2. Diusir dari telaga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Rasulullah menceritakan tentang pelaku bid'ah nanti di padang mahsyar:
Dari apa yang diceritakan Rasulullah diatas, nanti tatkala manusia berkumpul di padang mahsyar. Dimana kondisi saat itu begitu panas menyengat karena matahari ada di atas ubun-ubun, ummat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan berbondong-bondong menuju telaga Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun, akan ada sekelompok manusia yang dihalau agar tidak sampai ke telaga itu, mereka ialah orang-orang yang selama hidupnya gemar melakukan ibadah anti-mainstream dengan penuh kebanggaan hingga akhir hidupnya.
3. Dosa berlipat ganda
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Bayangkan ketika seseorang melakukan atau bahkan mengajarkan bid'ah kepada orang lain, sehingga orang tersebut turut melakukannya, maka betapa banyak dosa bagi dia yang telah mengajarkannya. Berlipat ganda, dan inilah dosa jariyah bagi pelaku bid'ah.
4. Susah bertaubat
Bahaya bid'ah yang begitu besar adalah membuat para pelakunya susah bertaubat darinya, karena mereka menganggap itu adalah suatu ibadah yang baik. Karena itulah ulama mengatakan bahwa iblis lebih menyukai bid'ah daripada maksiat. Pelaku maksiat, ketika dia dinasehati untuk berhenti dari maksiatnya akan lebih mudah sadar dan mau menerima. Namun, pelaku bid'ah justru akan marah-marah dan tidak terima ketika dinasehati untuk meninggalkan bid'ah tersebut. Sebab dari awal yang ia tahu itu adalah suatu kebaikan, padahal itu adalah dosa dan sumber kehancuran di masa mendatang.
Itulah berbagai bahaya besar bagi pelaku bid'ah. Memang tidak bisa kita pungkiri, masalah bid'ah di zaman ini sudah mendarah daging dan dianggap suatu keumuman. Tapi, cukuplah nasehat dari nabi kita Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallah menjadi pijakan kita untuk teguh memegang sunnah.
Semoga Allah meneguhkan langkah kita dalam menghidupkan sunnah untuk menggapai khusnul khatimah.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
Assalamu'alaikum
Alhamdulillah, artikel ini adalah kelanjutan artikel kita sebelumnya : Ibadah Itu yang Mainstream Aja! (Part 1)
Bahaya Ibadah Anti-Mainstream (Bid'ah):
1. Ditolak amalannya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”
(HR. Muslim no. 1718)
2. Diusir dari telaga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Rasulullah menceritakan tentang pelaku bid'ah nanti di padang mahsyar:
“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “
(HR. Bukhari no. 6576, 7049)
Dari apa yang diceritakan Rasulullah diatas, nanti tatkala manusia berkumpul di padang mahsyar. Dimana kondisi saat itu begitu panas menyengat karena matahari ada di atas ubun-ubun, ummat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan berbondong-bondong menuju telaga Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun, akan ada sekelompok manusia yang dihalau agar tidak sampai ke telaga itu, mereka ialah orang-orang yang selama hidupnya gemar melakukan ibadah anti-mainstream dengan penuh kebanggaan hingga akhir hidupnya.
3. Dosa berlipat ganda
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya , maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”
(HR. Tirmidzi no.2677)
Bayangkan ketika seseorang melakukan atau bahkan mengajarkan bid'ah kepada orang lain, sehingga orang tersebut turut melakukannya, maka betapa banyak dosa bagi dia yang telah mengajarkannya. Berlipat ganda, dan inilah dosa jariyah bagi pelaku bid'ah.
4. Susah bertaubat
Bahaya bid'ah yang begitu besar adalah membuat para pelakunya susah bertaubat darinya, karena mereka menganggap itu adalah suatu ibadah yang baik. Karena itulah ulama mengatakan bahwa iblis lebih menyukai bid'ah daripada maksiat. Pelaku maksiat, ketika dia dinasehati untuk berhenti dari maksiatnya akan lebih mudah sadar dan mau menerima. Namun, pelaku bid'ah justru akan marah-marah dan tidak terima ketika dinasehati untuk meninggalkan bid'ah tersebut. Sebab dari awal yang ia tahu itu adalah suatu kebaikan, padahal itu adalah dosa dan sumber kehancuran di masa mendatang.
Itulah berbagai bahaya besar bagi pelaku bid'ah. Memang tidak bisa kita pungkiri, masalah bid'ah di zaman ini sudah mendarah daging dan dianggap suatu keumuman. Tapi, cukuplah nasehat dari nabi kita Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallah menjadi pijakan kita untuk teguh memegang sunnah.
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian."
(HR. At-Tirmidzi no. 2676)
Semoga Allah meneguhkan langkah kita dalam menghidupkan sunnah untuk menggapai khusnul khatimah.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
Ibadah Itu yang Mainstream Aja! (Part 2)
By Unknown
Ibadah Itu yang Mainstream Aja! (Part 1)
Assalamu'alaikum
Sahabat fillah, kita yang tinggal di zaman now ini pasti pernah mendengar istilah mainstream yang seringkali diucapkan oleh muda mudi zaman ini. Mainstream, dalam bahasa Indonesia berarti tendensi, atau bisa diartikan arus utama. Namun, dalam hal ini istilah gaulnya berati umum, atau sesuai kebiasaan. Istilah gaul inilah yang akan kita gunakan dalam pembahasan kali ini.
Lanjut dengan ibadah, apa sih ibadah itu? Tentu kita akan menjawab suatu amalan-amalan yang diridhai Allah subhanahu wa ta'ala. Suatu bentuk penghambaan diri kita kepada Yang Maha Kuasa. Ibadah adalah tujuan hidup kita, seperti yang Allah firmankan:
Sebagai tujuan hidup, ibadah tentu harus menjadi prioritas kita dan sepenuhnya menjadi prioritas kita. Kecacatan kita dalam beribadah berarti kecacatan hidup kita di dunia. Gagal dalam ibadah, itu berarti juga sebuah kegagalan dalam menjalani hidup sebagai seorang hamba. Maka, bukan pilihan apalagi beban, ibadah adalah kebutuhan yang setiap waktu harus kita jalankan.
Lalu apa hubungannya ibadah dengan mainstream? Apa itu ibadah mainstream? Kenapa kita harus beribadah dengan ibadah yang mainstream? Simak penjelasannya ya sahabat:
Ibadah Itu yang Mainstream, bukan yang Anti-Mainstream!
Hukum asal ibadah adalah haram, sampai datang suatu dalil. Ketika ada dalilnya, maka itu bisa berubah menjadi wajib, sunnah, ataupun hukum yang lainnya. Namun, jika tidak ada dalil, maka hukumnya kembali ke hukum asalnya. Dari mana dalil tersebut? Tentu dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Yang harus kita ingat sahabat, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan dan memberikan tuntunan terhadap semua ibadah-ibadah yang bisa kita lakukan. Ibadah yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam inilah yang kita sebut sebagai Ibadah yang Mainstream. Dimana memang ibadah tersebut memiliki dalil yang kuat, dan juga para sahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in juga telah biasa melakukannya. Maka, ibadah inilah nanti yang akan mengantarkan kita ke Jannah, insyaaAllah.
Namun sebaliknya, ada juga Ibadah Anti-Mainstream, dimana ibadah itu tidak ada dalil yang membenarkannya dan tidak ada nash yang berbicara. Ibadah yang tidak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ajarkan dan tidak pula para shalafusholihin kenal. Kita muslim mengenalnya dengan istilah Bid'ah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Lihatlah sahabat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan jelas mendefinisikan bid'ah. Suatu ibadah yang diada-ada, bisa dibilang anti-mainstream, nyleneh dan tidak ada dalil yang mendasarinya. Ini adalah bentuk menyelisihi sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Sehingga beliau mengatakan bid'ah sebagai bentuk kesesatan dan dapat membawa para pelakunya menuju neraka. Na'udzubillahi min dzalik.
Maka dari itu, kita sebagai ummat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam harus menghindari ibadah anti-mainstream (bid'ah) ini. Cukupkanlah diri kita dengan ibadah mainstream atau yang telah diajarkan oleh Rasululllah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kita mencintai beliau, sudah seharusnya kita buktikan itu dengan mengamalkan ibadah-ibadah yang sudah ditetapkan oleh beliau. Karena bid'ah, adalah bentuk pengingkaran dan pengkhianatan terhadap perjuangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Pelaku bid'ah seakan-akan menganggap Rasulullah belum sempurna dalam berdakwah dan masih ada hal-hal yang belum beliau sampaikan kepada ummat, sehingga mereka dengan bangganya melakukan ibadah-ibadah yang tidak ada tuntunannya. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menghembuskan nafas terakhirnya kecuali sudah mengajarakan semua hal yang bisa mengantarkan kita ke surga, dan memperingatkan semua hal yang bisa menjerumuskan kita ke neraka agar kita menjauhinya. Dan Allah subhanahu wa ta'ala juga telah tegas berfirman:
Allah sudah menyempurnakan agama ini. Telah sempurna pula dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka jangan lagi kita mencari selainnya.
InsyaaAllah berlanjut dengan Bahaya Ibadah Anti-Mainstream di artikel berikutnya : Ibadah Itu yang Mainstream Aja! (Part 2)
Semoga Allah melindungi kita dari bahaya bid'ah di zaman ini.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
Assalamu'alaikum
Sahabat fillah, kita yang tinggal di zaman now ini pasti pernah mendengar istilah mainstream yang seringkali diucapkan oleh muda mudi zaman ini. Mainstream, dalam bahasa Indonesia berarti tendensi, atau bisa diartikan arus utama. Namun, dalam hal ini istilah gaulnya berati umum, atau sesuai kebiasaan. Istilah gaul inilah yang akan kita gunakan dalam pembahasan kali ini.
Lanjut dengan ibadah, apa sih ibadah itu? Tentu kita akan menjawab suatu amalan-amalan yang diridhai Allah subhanahu wa ta'ala. Suatu bentuk penghambaan diri kita kepada Yang Maha Kuasa. Ibadah adalah tujuan hidup kita, seperti yang Allah firmankan:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Az-Zariyat: 56)
Lalu apa hubungannya ibadah dengan mainstream? Apa itu ibadah mainstream? Kenapa kita harus beribadah dengan ibadah yang mainstream? Simak penjelasannya ya sahabat:
Ibadah Itu yang Mainstream, bukan yang Anti-Mainstream!
Hukum asal ibadah adalah haram, sampai datang suatu dalil. Ketika ada dalilnya, maka itu bisa berubah menjadi wajib, sunnah, ataupun hukum yang lainnya. Namun, jika tidak ada dalil, maka hukumnya kembali ke hukum asalnya. Dari mana dalil tersebut? Tentu dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Yang harus kita ingat sahabat, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan dan memberikan tuntunan terhadap semua ibadah-ibadah yang bisa kita lakukan. Ibadah yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam inilah yang kita sebut sebagai Ibadah yang Mainstream. Dimana memang ibadah tersebut memiliki dalil yang kuat, dan juga para sahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in juga telah biasa melakukannya. Maka, ibadah inilah nanti yang akan mengantarkan kita ke Jannah, insyaaAllah.
Namun sebaliknya, ada juga Ibadah Anti-Mainstream, dimana ibadah itu tidak ada dalil yang membenarkannya dan tidak ada nash yang berbicara. Ibadah yang tidak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ajarkan dan tidak pula para shalafusholihin kenal. Kita muslim mengenalnya dengan istilah Bid'ah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka ”
(HR. An Nasa’i no. 1578)
Lihatlah sahabat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan jelas mendefinisikan bid'ah. Suatu ibadah yang diada-ada, bisa dibilang anti-mainstream, nyleneh dan tidak ada dalil yang mendasarinya. Ini adalah bentuk menyelisihi sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Sehingga beliau mengatakan bid'ah sebagai bentuk kesesatan dan dapat membawa para pelakunya menuju neraka. Na'udzubillahi min dzalik.
Maka dari itu, kita sebagai ummat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam harus menghindari ibadah anti-mainstream (bid'ah) ini. Cukupkanlah diri kita dengan ibadah mainstream atau yang telah diajarkan oleh Rasululllah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kita mencintai beliau, sudah seharusnya kita buktikan itu dengan mengamalkan ibadah-ibadah yang sudah ditetapkan oleh beliau. Karena bid'ah, adalah bentuk pengingkaran dan pengkhianatan terhadap perjuangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Pelaku bid'ah seakan-akan menganggap Rasulullah belum sempurna dalam berdakwah dan masih ada hal-hal yang belum beliau sampaikan kepada ummat, sehingga mereka dengan bangganya melakukan ibadah-ibadah yang tidak ada tuntunannya. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menghembuskan nafas terakhirnya kecuali sudah mengajarakan semua hal yang bisa mengantarkan kita ke surga, dan memperingatkan semua hal yang bisa menjerumuskan kita ke neraka agar kita menjauhinya. Dan Allah subhanahu wa ta'ala juga telah tegas berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا ۚ
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu."
(Al-Ma'idah: 3)
InsyaaAllah berlanjut dengan Bahaya Ibadah Anti-Mainstream di artikel berikutnya : Ibadah Itu yang Mainstream Aja! (Part 2)
Semoga Allah melindungi kita dari bahaya bid'ah di zaman ini.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
Ibadah Itu yang Mainstream Aja! (Part 1)
By Unknown
Tahajud vs Dhuha, Mana yang Lebih Besar Keutamaannya?
Assalamu'alaikum
Sahabat, mungkin ada yang bertanya-tanya, lebih utama manakah antara shalat tahajud dengan shalat dhuha? Kita katakan, keduanya utama dan memiliki keutamaan yang besar sebagai shalat sunnah. Maka tidak bisa kita bandingkan, namun bisa kita lakukan setiap harinya.
Sampai ada sebuah nasehat, bahwa jika engkau tidak bisa bangun untuk shalat tahajud, maka luangkan waktumu untuk shalat dhuha. Begitu pula sebaliknya, jika engkau tidak bisa meluangkan waktu untuk shalat dhuha, maka berusahalah bangun untuk shalat tahajud. Ini karena begitu besarnya keutamanan kedua shalat tersebut.
Keutamaan Shalat Tahajud
1. Mendapatkan pahala yang begitu besar
Shalat tahajud mempunyai pahala yang begitu besar. Bahkan Rasulullah mengatakan bahwa tahajud adalah shalat yang paling utama setelah shalat lima waktu.
ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﺑَﻌْﺪَ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻤَﻔْﺮُﻭْﺿَﺔِ، ﺻَﻼَﺓُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ
“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat yang dilakukan di malam hari.” (H.R. Muslim)
Bukan hanya pahala yamg begitu besar, shalat tahajud nanti akan menjadi cahaya kita di yaumul qiyamah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Yazid ar-Riqasyi, beliau mengatakan, “Shalat malam akan menjadi cahaya bagi seorang mukmin pada hari Kiamat kelak dan cahaya itu akan berjalan dari depan dan belakangnya. Sedangkan puasa seorang hamba akan menjauhkannya dari panasnya Neraka Sa’ir.”(as-Shalaatu wat Tahajjud)
2. Dikabulkan do'anya
Sahabat, tatkala engkau mempunyai suatu keinginan yang baik, maka sering-seringlah engkau membicarakannya kepada Allah di setiap malammu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻟَﺴَﺎﻋَـﺔً، ﻻَ ﻳُﻮَﺍﻓِﻘُﻬَﺎ ﺭَﺟُـﻞٌ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻳَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ، ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ .
“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam.” (H.R. Muslim)
3. Mendapatkan cinta dan sanjungan dari Allah
Allah subhanahu wa ta'ala menyanjung orang yang siap melaksanakan shalat tahajud, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an:
تَتَجَافٰى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُونَ
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. As-Sajdah:16)
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah:17)
Al-Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Cobalah renungkan bagaimana Allah membalas shalat malam yang mereka lakukan secara sembunyi dengan balasan yang Ia sembunyikan bagi mereka, yakni yang tidak diketahui oleh semua jiwa. Juga bagaimana Allah membalas rasa gelisah, takut dan gundah gulana mereka di atas tempat tidur saat bangun untuk melakukan shalat malam dengan kesenangan jiwa di dalam Surga.”(Haadil Arwaah ilaa Bilaadil Afraah)
Keutamaan Shalat Dhuha
1. Dijanjikan sebuah rumah di surga
Siapa diantara kita yang tidak ingin dibuatkan rumah di surga? Pasti kita semua ingin. Dan inilah keutamaan shalat dhuha, akan dibuatkan rumah di surga bagi yang mengerjakannya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga,” (Shahih al-Jami`)
2. Setara dengan umrah
Shalat dhuha memiliki pahala yang setara dengan pahala umrah.
Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib)
3. Dosanya diampuni
Keutamaan shalat dhuha ialah sebagai penghapus dosa-dosa kita, insyaaAllah. Sebagaimana yang Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallan jelaskan, “Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan rutin, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan" (HR Tirmidzi).
Selain keutamaan-keutamaan di atas, shalat tahajud dan dhuha keduanya sama-sama memiliki keutamaan lain yang begitu banyak, diantaranya:
1. Bukti cinta terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
2. Mendapatkan pertolongan Allah
3. Mengangkat derajatnya di sisi Allah
4. Bentuk olahraga yang menyehatkan
5. Anti-stress
Maka, ayo sahabat! Kita mulai biasakan shalat tahajud dan dhuha setiap harinya. InsyaaAllah, kita akan mendapatkan keuntungan yang begitu besar, di dunia maupun di akhirat.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
Assalamu'alaikum
Sahabat, mungkin ada yang bertanya-tanya, lebih utama manakah antara shalat tahajud dengan shalat dhuha? Kita katakan, keduanya utama dan memiliki keutamaan yang besar sebagai shalat sunnah. Maka tidak bisa kita bandingkan, namun bisa kita lakukan setiap harinya.
Keutamaan Shalat Tahajud
1. Mendapatkan pahala yang begitu besar
Shalat tahajud mempunyai pahala yang begitu besar. Bahkan Rasulullah mengatakan bahwa tahajud adalah shalat yang paling utama setelah shalat lima waktu.
ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﺑَﻌْﺪَ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻤَﻔْﺮُﻭْﺿَﺔِ، ﺻَﻼَﺓُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ
“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat yang dilakukan di malam hari.” (H.R. Muslim)
Bukan hanya pahala yamg begitu besar, shalat tahajud nanti akan menjadi cahaya kita di yaumul qiyamah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Yazid ar-Riqasyi, beliau mengatakan, “Shalat malam akan menjadi cahaya bagi seorang mukmin pada hari Kiamat kelak dan cahaya itu akan berjalan dari depan dan belakangnya. Sedangkan puasa seorang hamba akan menjauhkannya dari panasnya Neraka Sa’ir.”(as-Shalaatu wat Tahajjud)
2. Dikabulkan do'anya
Sahabat, tatkala engkau mempunyai suatu keinginan yang baik, maka sering-seringlah engkau membicarakannya kepada Allah di setiap malammu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻟَﺴَﺎﻋَـﺔً، ﻻَ ﻳُﻮَﺍﻓِﻘُﻬَﺎ ﺭَﺟُـﻞٌ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻳَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ، ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ .
“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam.” (H.R. Muslim)
3. Mendapatkan cinta dan sanjungan dari Allah
Allah subhanahu wa ta'ala menyanjung orang yang siap melaksanakan shalat tahajud, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an:
تَتَجَافٰى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُونَ
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. As-Sajdah:16)
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah:17)
Al-Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Cobalah renungkan bagaimana Allah membalas shalat malam yang mereka lakukan secara sembunyi dengan balasan yang Ia sembunyikan bagi mereka, yakni yang tidak diketahui oleh semua jiwa. Juga bagaimana Allah membalas rasa gelisah, takut dan gundah gulana mereka di atas tempat tidur saat bangun untuk melakukan shalat malam dengan kesenangan jiwa di dalam Surga.”(Haadil Arwaah ilaa Bilaadil Afraah)
Keutamaan Shalat Dhuha
1. Dijanjikan sebuah rumah di surga
Siapa diantara kita yang tidak ingin dibuatkan rumah di surga? Pasti kita semua ingin. Dan inilah keutamaan shalat dhuha, akan dibuatkan rumah di surga bagi yang mengerjakannya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga,” (Shahih al-Jami`)
2. Setara dengan umrah
Shalat dhuha memiliki pahala yang setara dengan pahala umrah.
Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib)
3. Dosanya diampuni
Keutamaan shalat dhuha ialah sebagai penghapus dosa-dosa kita, insyaaAllah. Sebagaimana yang Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallan jelaskan, “Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan rutin, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan" (HR Tirmidzi).
Selain keutamaan-keutamaan di atas, shalat tahajud dan dhuha keduanya sama-sama memiliki keutamaan lain yang begitu banyak, diantaranya:
1. Bukti cinta terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
2. Mendapatkan pertolongan Allah
3. Mengangkat derajatnya di sisi Allah
4. Bentuk olahraga yang menyehatkan
5. Anti-stress
Maka, ayo sahabat! Kita mulai biasakan shalat tahajud dan dhuha setiap harinya. InsyaaAllah, kita akan mendapatkan keuntungan yang begitu besar, di dunia maupun di akhirat.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
Tahajud vs Dhuha, Mana yang Lebih Besar Keutamaannya?
By Unknown
Ar-Rayah Al-Liwa’, Simbol Kebanggaan Kami
“ Bendera (liwa’) Rasulullah –shalallahu ’alaihi wa sallam– berwarna putih, dan panjinya (rayah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, al-Baghawi, al-Tirmidzi. Lafal al-Hakim)
Manusia adalah mahkluk simbol, mereka selalu ingin me-representasikan diri mereka lewat simbol, logo,atau apapun itu yang bisa mewakili kepribadian dari mereka sendiri. Juga sebagai ekspresi diri mewakilkan siapa sebenarnya diri kita. Dan demikian itu merupakan hal yang wajar, lumrah dan memang semestinya begitu.
Sebagai contoh, kids jaman now yang suka dengan clothing brand tertentu berdasarkan logo atau simbol yang menarik, terkesan kekinian dan nyentrik akan rela membeli dengan harga yang tidak murah demi mendapatkan baju ber logo kekinian tersebut. Dan itu sangat laku di pasaran.
Biar terlihat anak sport atau anak bola, ada orang yang hobi mengkoleksi baju-baju atau pernak-pernik ber-logokan Manchester United, Inter Milan dan lain sebagainya. Tapi saat ditanya klub kesayangan jawabnya malah Hala Madrid.
Belum lagi anak band, yang suka dengan logo album ataupun logo dari band kesayangan itu sendiri. Sering menunjukkan gambar-gambar logo band kesayangan. Menunjukkan bahwa dia adalah fans berat dari band itu sendiri.
Manusia sebagai mahkluk simbol ingin menunjukkan "siapa saya" dan "inilah saya". Lalu pertanyaannya, bila anda Muslim, apa yang seharusnya paling layak menjadi simbol yang anda banggakan?
Seperti logo tali jagat yang di punyai NU senantiasa melambangkan persatuan seluruh umat , lalu logo matahari yang memancarkan dua belas sinar yang dimilki Muhammadiyah juga menjelaskan tekat dan semangat umat dalam memperjuangkan islam. Dan banyak lagi organisasi yang juga menggambarkan tujuannya lewat logo atau simbol yang mereka miliki.
Dan ada satu logo yang menjadi identitas, keyakinan, keimanan, ciri-ciri dan yang bisa mempersatukan seluruh umat muslim tanpa terkecuali. Yang pada hakikatnya kita semua berhak memakai simbol atau logo ini.
Simbol itu adalah Syahadatain. Simbol yang bertuliskan kalimat tauhid dan juga pengakuan kita terhadap kerasulan dari Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. Merupakan pertanda bahwa kita muslim, kita islam.
Karena dengan simbol ini yang paling menyatakan "INI AKU" melebihi simbol-simbol lainnya dalam Islam. Simbol yang paling bisa menyatukan keberagaman muslim, yang paling bisa mem-“BHINEKA” kan kita sebagai umat muslim.
Maka jangan heran, bila kalimat syahadatain ini sekarang laku keras diantara orang Muslim, walau kaum dzalim dan munafik selalu melabelinya dengan bendera ISIS atau teroris
Panji bertulis "Laa ilaaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah" itu dengan bangga diangkat dari emak-emak wangi sampai kids zaman now, aki-aki sampai jomblo baperan
Mereka nyaman dan bangga dengan bendera ini, dan tebak siapa yang kepanasan dan panik? Tentu mereka yang tak punya rasa bangga pada syahdatainnya sendiri. Yakni para pengecer toleransi bablas, kapitalisme dan liberalisme yang jualannya mendadak amblas saat ummat Muslim sudah mulai sadar dan bangkit membela agamanya
Bangga pada agama itu pahala, apalagi dari hadits yang sampai pada kita, bahwa Rasulullah punya bendera putih dan hitam, bertuliskan syahadatain, wah, tambah bangga lagi
Itulah kalimat sebaik-baik dzikir, yang dengan prinsip itu kita hidup, kita mati, dan bangkit dengannya. Saat ini kita dibawahnya, di yaumil qiyamah mudah-mudahan jua
Wallahu a'lam bishawab
Panggul, 13 Desember 2017
Syafiul Ardi Firmansyah
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Follow IG: ardisyafiul
Ar-Rayah Al-Liwa’, Simbol Kebanggaan Kami
By Unknown
Inilah Bukti Ketika Hamba Mencintai Allah
Assalamu'alaikum
Sahabat fillah, mungkin pernah ketika kita ditanya, siapa yang paling engkau cintai? Kita akan menjawab Allah yang paling kucintai. Tapi, benarkah itu? Atau itu hanya sebatas pengakuan lisan kita? Atau memang kita benar-benar mencintai Allah lebih dari segala-galanya?
Di sini cinta butuh bukti. Bukan hanya manisnya ucapan, tanpa praktek dalam tindakan. Wallahi, yang kita khawatirkan bukanlah jika ternyata kita membohongi Allah, tapi kita khawatir jika ternyata kita membohongi diri sendiri. Kita telah tertipu dengan lisan kita yang mengatakan Allah yang paling ku cintai, sehingga kita merasa cukup dengan itu, tak mau bermuhasabah apalagi memperbaiki diri.
Maka, kita harus tahu bukti apa saja yang akan dilakukan seorang hamba jika ia benar-benar mencintai Allah lebih dari segala-galanya. Bukti tersebut antara lain:
1. Taat kepada Allah
Melaksanakan segala perintah Allah, dan menjauhi segala larangannya adalah salah satu bukti cintanya seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Ali 'Imran: Ayat 31)
Apapun yang diperintahkan oleh Allah, ia laksanakan dengan sami'na wa atho'na. Tidak ada kesusahan atau rasa malas baginya untuk melaksanakan ibadah, dan begitu mudah baginya untuk meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah, itu karena cinta.
Sebagai analogi, lihatlah para pendaki yang rela meninggalkan rumah mereka, menempuh perjalanan yang jauh, sukar, dan bahkan mengancam nyawa. Ketika mereka sampai di puncak, apa yang mereka dapatkan? Tidak ada! Mereka tidak mendapatkan apa-apa. Tapi karena cinta, mereka dengan senang hati melakukannya, cinta akan hobi mereka, sehingga tatkala mereka sampai ke tujuan, mereka mendapatkan suatu kebahagiaan tersendiri, yang mungkin hanya mereka yang mampu merasakannya.
Begitu pula jika kita cinta kepada Allah, apapun perintah-Nya dan apapun larangan-Nya, kita dengan senang hati senantiasa sami'na wa atho'na (kami dengar dan kami taat).
2. Sering mengingat dan menyebut nama-Nya
Seseorang yang mencintai Allah akan senantiasa ingat dan menyebut nama-Nya, karena ia sadar semuanya itu dari Allah. Maka pantaslah kita dalam setiap kondisi selalu ingat kepada Sang Pemberi. Dan sahabat, dengan mengingat Allah lah, hidup ini menjadi tenteram, tidak ada lagi kegalauan.
Allah Ta'ala berfirman:
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: Ayat 28)
3. Sering membaca Al-Qur'an
Abdullah ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa jika kita ingin tau seberapa besar cinta kita kepada Allah, maka lihatlah seberapa banyak kita membaca Al-Qur'an. Semakin sering kita membaca Al-Qur'an, maka itu tanda semakin besarnya cinta kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Dan tahukah engkau sahabat bahwa Al-Qur'an nantinya akan memberi syafaat untuk orang beriman yang membacanya.
Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat. (HR. Muslim 1910).
4. Rindu untuk pergi ke rumah-Nya
Orang yang mencintai Allah akan begitu merindukan untuk bisa hadir ke rumah Allah. Ia akan rindu untuk memasuki masjid. Karena memang masjid adalah tempat yang paling suci dan nyaman untuk hamba-hamba Allah yang beriman lagi mencintai-Nya. Masjid adalah tempat yang membuatnya tenang dan tenteram. Di masjid, ia meletakkan segala kepenatan dunia, dan mengadukan setiap masalahnya kepada satu-satunya yang memberi solusi, Allah subhanahu wa ta'ala. MasyaaAllah...
Itulah beberapa bukti cinta hamba kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Mulailah merenung sahabat, sudahkah kita seperti itu? Jika belum, mari kita mulai bermuhasabah dan memperbaiki diri. Kita tumbuhkan cinta kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala, karena dengan cinta itu, hidup kita akan terasa begitu bahagia, abadi hingga akhirat nanti.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
Assalamu'alaikum
Sahabat fillah, mungkin pernah ketika kita ditanya, siapa yang paling engkau cintai? Kita akan menjawab Allah yang paling kucintai. Tapi, benarkah itu? Atau itu hanya sebatas pengakuan lisan kita? Atau memang kita benar-benar mencintai Allah lebih dari segala-galanya?
Di sini cinta butuh bukti. Bukan hanya manisnya ucapan, tanpa praktek dalam tindakan. Wallahi, yang kita khawatirkan bukanlah jika ternyata kita membohongi Allah, tapi kita khawatir jika ternyata kita membohongi diri sendiri. Kita telah tertipu dengan lisan kita yang mengatakan Allah yang paling ku cintai, sehingga kita merasa cukup dengan itu, tak mau bermuhasabah apalagi memperbaiki diri.
Maka, kita harus tahu bukti apa saja yang akan dilakukan seorang hamba jika ia benar-benar mencintai Allah lebih dari segala-galanya. Bukti tersebut antara lain:
1. Taat kepada Allah
Melaksanakan segala perintah Allah, dan menjauhi segala larangannya adalah salah satu bukti cintanya seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Ali 'Imran: Ayat 31)
Apapun yang diperintahkan oleh Allah, ia laksanakan dengan sami'na wa atho'na. Tidak ada kesusahan atau rasa malas baginya untuk melaksanakan ibadah, dan begitu mudah baginya untuk meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah, itu karena cinta.
Sebagai analogi, lihatlah para pendaki yang rela meninggalkan rumah mereka, menempuh perjalanan yang jauh, sukar, dan bahkan mengancam nyawa. Ketika mereka sampai di puncak, apa yang mereka dapatkan? Tidak ada! Mereka tidak mendapatkan apa-apa. Tapi karena cinta, mereka dengan senang hati melakukannya, cinta akan hobi mereka, sehingga tatkala mereka sampai ke tujuan, mereka mendapatkan suatu kebahagiaan tersendiri, yang mungkin hanya mereka yang mampu merasakannya.
Begitu pula jika kita cinta kepada Allah, apapun perintah-Nya dan apapun larangan-Nya, kita dengan senang hati senantiasa sami'na wa atho'na (kami dengar dan kami taat).
2. Sering mengingat dan menyebut nama-Nya
Seseorang yang mencintai Allah akan senantiasa ingat dan menyebut nama-Nya, karena ia sadar semuanya itu dari Allah. Maka pantaslah kita dalam setiap kondisi selalu ingat kepada Sang Pemberi. Dan sahabat, dengan mengingat Allah lah, hidup ini menjadi tenteram, tidak ada lagi kegalauan.
Allah Ta'ala berfirman:
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: Ayat 28)
3. Sering membaca Al-Qur'an
Abdullah ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa jika kita ingin tau seberapa besar cinta kita kepada Allah, maka lihatlah seberapa banyak kita membaca Al-Qur'an. Semakin sering kita membaca Al-Qur'an, maka itu tanda semakin besarnya cinta kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Dan tahukah engkau sahabat bahwa Al-Qur'an nantinya akan memberi syafaat untuk orang beriman yang membacanya.
Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat. (HR. Muslim 1910).
4. Rindu untuk pergi ke rumah-Nya
Orang yang mencintai Allah akan begitu merindukan untuk bisa hadir ke rumah Allah. Ia akan rindu untuk memasuki masjid. Karena memang masjid adalah tempat yang paling suci dan nyaman untuk hamba-hamba Allah yang beriman lagi mencintai-Nya. Masjid adalah tempat yang membuatnya tenang dan tenteram. Di masjid, ia meletakkan segala kepenatan dunia, dan mengadukan setiap masalahnya kepada satu-satunya yang memberi solusi, Allah subhanahu wa ta'ala. MasyaaAllah...
Itulah beberapa bukti cinta hamba kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Mulailah merenung sahabat, sudahkah kita seperti itu? Jika belum, mari kita mulai bermuhasabah dan memperbaiki diri. Kita tumbuhkan cinta kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala, karena dengan cinta itu, hidup kita akan terasa begitu bahagia, abadi hingga akhirat nanti.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
Inilah Bukti Ketika Hamba Mencintai Allah
By Unknown
3 Metode Hafalan Terbaik oleh Dr. Zakir Naik
Assalamu'alaikum
Alhamdulillah sahabat, umat Islam saat ini memiliki tokoh hebat yang tak henti-hentinya memperjuangkan agama Islam lewat dakwah terutama kepada non-muslim. Dialah Dr. Zakir Naik. Beliau adalah muslim dari India, yang telah mengislamkan ribuan manusia lewat ceramah-ceramahnya.
Salah satu kehebatan Dr. Zakir Naik ialah beliau mempunyai hafalan yang luar biasa. Al-Qur'an dan ribuan hadits-hadits sudah menempel di ingatannya. Bahkan beliaupun juga sanggup menghafal kitab-kitab non-muslim, sehingga perkara gampang bagi beliau untuk membantah argumen-argumen yang non-muslim lancarkan kepada beliau.
Lalu, apa yang membuat hafalan beliau begitu luar biasa? Metode hafalan apa yang beliau pakai?
Dr. Zakir Naik pernah ditanya masalah ini oleh seorang muslimah pada sesi tanya jawab disalah satu ceramahnya. Beliaupun membongkar rahasia hafalannya itu. Beliau secara tegas mengatakan, bahwasanya metode hafalan terbaik, ada dalam Al-Qur'an. Kemudian secara rinci beliau menjelaskan 3 metode dalam menghafal yang selama ini beliau ajarkan kepada murid-murid beliau, yaitu:
1. Tawakal kepada Allah
Allah Ta'ala berfirman:
إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِى يَنْصُرُكُمْ مِّنۢ بَعْدِهِۦ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
"Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang beriman bertawakal."
(QS. Ali 'Imran: Ayat 160)
Dr. Zakir Naik mengatakan bahwa ini adalah teknik terbaik di dunia, yaitu percaya dan bertawakal kepada Allah. Karena Allah adalah sebaik-baik penolong, urusan apapun akan menjadi mudah dengan pertolongan Allah.
2. Kerja keras
Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ جٰهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-'Ankabut: Ayat 69)
Ini kunci sukses yang kedua, kerja keras di jalan Allah subhanahu wa ta'ala. Karena Allah akan menolong setiap hamba yang mau berjuang di jalan-Nya.
Dr. Zakir Naik mengatakan:
"Bagaimana cara mendapatkan pertolongan Allah? Adalah jika kamu berjuang di jalan-Nya. Jika kamu berjuang di jalan-Nya, maka kamu akan sukses. Jika kamu tidak sukses, berarti kamu belum berjuang dengan benar di jalan Allah subhanahu wa ta'ala."
3. Bersifat Teknis
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِىٓ إِلَيْهِمْ ۚ فَسْئَلُوٓا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,"
(QS. An-Nahl: Ayat 43)
Mempunyai guru pembimbing adalah hal yang penting untuk memudahkan dalam menghafal. Karena guru dapat memberikan panduan, nasehat, dan semangat hingga kita sukses dalam meraih tujuan kita. Memiliki guru akan membuat kita lebih disiplin, dan yang terpenting berdasarkan ayat di atas, kita dapat memperoleh jawaban dan ilmu-ilmu yang belum kita miliki.
Itulah 3 metode menghafal menurut Dr. Zakir Naik, dan telah terbukti berhasil kepada ratusan murid beliau. Jika sahabat berfikir ini sulit, sebenarnya tidak. Karena ingatlah, ada Allah yang akan menolong kita. Dan jika mereka mampu, kenapa kita tidak? Kita bisa seperti mereka, asal mau memulainya dan terus istiqomah.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
Assalamu'alaikum
Alhamdulillah sahabat, umat Islam saat ini memiliki tokoh hebat yang tak henti-hentinya memperjuangkan agama Islam lewat dakwah terutama kepada non-muslim. Dialah Dr. Zakir Naik. Beliau adalah muslim dari India, yang telah mengislamkan ribuan manusia lewat ceramah-ceramahnya.
Salah satu kehebatan Dr. Zakir Naik ialah beliau mempunyai hafalan yang luar biasa. Al-Qur'an dan ribuan hadits-hadits sudah menempel di ingatannya. Bahkan beliaupun juga sanggup menghafal kitab-kitab non-muslim, sehingga perkara gampang bagi beliau untuk membantah argumen-argumen yang non-muslim lancarkan kepada beliau.
Lalu, apa yang membuat hafalan beliau begitu luar biasa? Metode hafalan apa yang beliau pakai?
Dr. Zakir Naik pernah ditanya masalah ini oleh seorang muslimah pada sesi tanya jawab disalah satu ceramahnya. Beliaupun membongkar rahasia hafalannya itu. Beliau secara tegas mengatakan, bahwasanya metode hafalan terbaik, ada dalam Al-Qur'an. Kemudian secara rinci beliau menjelaskan 3 metode dalam menghafal yang selama ini beliau ajarkan kepada murid-murid beliau, yaitu:
1. Tawakal kepada Allah
Allah Ta'ala berfirman:
إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِى يَنْصُرُكُمْ مِّنۢ بَعْدِهِۦ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
"Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang beriman bertawakal."
(QS. Ali 'Imran: Ayat 160)
Dr. Zakir Naik mengatakan bahwa ini adalah teknik terbaik di dunia, yaitu percaya dan bertawakal kepada Allah. Karena Allah adalah sebaik-baik penolong, urusan apapun akan menjadi mudah dengan pertolongan Allah.
2. Kerja keras
Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ جٰهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-'Ankabut: Ayat 69)
Ini kunci sukses yang kedua, kerja keras di jalan Allah subhanahu wa ta'ala. Karena Allah akan menolong setiap hamba yang mau berjuang di jalan-Nya.
Dr. Zakir Naik mengatakan:
"Bagaimana cara mendapatkan pertolongan Allah? Adalah jika kamu berjuang di jalan-Nya. Jika kamu berjuang di jalan-Nya, maka kamu akan sukses. Jika kamu tidak sukses, berarti kamu belum berjuang dengan benar di jalan Allah subhanahu wa ta'ala."
3. Bersifat Teknis
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِىٓ إِلَيْهِمْ ۚ فَسْئَلُوٓا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,"
(QS. An-Nahl: Ayat 43)
Mempunyai guru pembimbing adalah hal yang penting untuk memudahkan dalam menghafal. Karena guru dapat memberikan panduan, nasehat, dan semangat hingga kita sukses dalam meraih tujuan kita. Memiliki guru akan membuat kita lebih disiplin, dan yang terpenting berdasarkan ayat di atas, kita dapat memperoleh jawaban dan ilmu-ilmu yang belum kita miliki.
Itulah 3 metode menghafal menurut Dr. Zakir Naik, dan telah terbukti berhasil kepada ratusan murid beliau. Jika sahabat berfikir ini sulit, sebenarnya tidak. Karena ingatlah, ada Allah yang akan menolong kita. Dan jika mereka mampu, kenapa kita tidak? Kita bisa seperti mereka, asal mau memulainya dan terus istiqomah.
Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum
3 Metode Hafalan Terbaik oleh Dr. Zakir Naik
By Unknown
Menyingkap Fakta Dibalik Adu Domba Wahabi dalam Memecah Belah Umat Islam
Hari ini sekali lagi, isu tentang Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum, di abad ke-2 hijriah dari kelompok Khawarij, yang menganggap kelompoknya saja yang paling benar diluarnya sesat seluruhnya, yang mengkafir-kafirkan orang, membid'ah-bid'ahkan orang, pada abad ke-2 hijriah. Bukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimi yang ada di Hijaz, bukan! Ini (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) jelas mujadid. Tetapi, umat Islam (dalam buku yang ditulis oleh Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, "Zionis & Syi'ah Bersatu Hantam Islam"), ternyata istilah wahabi-wahabi yang seharusnya di abad ke-2 hijriah itu, yang dia khawarij, itu disematkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Dan ini tidak benar, ini bathil!
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang mujadid, ulama Ahlussunnah wal jama'ah. Lihat seluruh kitab-kitab yang ditulisnya, lihat seluruh penyampaiannya, sama dengan yang ada pada umat Islam hari ini. Yang dipakai dan diamalkan oleh NU, yang dipakai dan diamalkan oleh Muhammadiyah, yang dipakai oleh ahlussunnah wal jama'ah yang ada dimana-mana. Tapi yang ditulis, yang di lafazhkan oleh sang Khawarij, abad ke-2 hijriah, yakni Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum, nah ini dia yang sesat menyesatkan. Tapi orang-orang Syi'ah menyematkan ini kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Inilah kebatilan yang nyata!
Lalu umat Islam saat ini mau saja percaya, dan dibentur-benturkan. Betapa prihatinnya, perih hati saya ketika mendengar ada seorang Sunni, diusir oleh saudara Sunninya yang lain. Kenapa? Karena Sunni yang ini (yang mengusir) adalah dari komunitas yang mayoritas, punya kebiasaan mengamalkan tradisi, yang Sunni ini (yang diusir) tidak mau mengikuti (semacam maulid nabi, isra' miraj). Tapi dia tetap baik berhubungan dengan masyarakat. Dianggap dan dibakar-bakar, ini adalah paham Wahabi, sehingga diusir dari kampungya, tidak boleh lagi tinggal di kampung, bahkan diancam mau dibakar. Padahal mereka sama-sama Sunni, yang bertepuk tangan Syi'i (orang Syi'ah). Karena kompor yang mereka nyalakan telah membakar sesama umat Islam.
Harusnya, kaum Muslimin, sadarilah! Semua sifat-sifat Wahabi yang diceritakan oleh saudara-saudara kita yang menyebar dimana-mana, seratus persen ada pada komunitas Syi'ah. Semua sifat-sifat yang ada pada wahabi-wahabi itu, ada pada Syi'ah seluruhnya. Yang maling mereka, yang teriak maling mereka dan mengadu domba sesama umat Islam. Sadarlah!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Sebutkan saudara kita tentang Nahdlatul Ulama (NU), sebutkan saudara kita yang ada di PERSIS, sebutkan saudara kita yang ada di kelompok perjuangan Ikhwanul Muslimin, sebutkan saudara kita yang mana saja yang akan kita sebutkan, mereka ahlussunnah wal jama'ah seluruhnya. Berangkat dari kelebihan dan kekurangan mereka, mereka saudara kita, kita saudara mereka. Kelau setiap kelompok berfikir seperti ini, maka akan ketahuan bahwa kita sesama kita tidak tidak layak untuk dibentur-benturkan, dan tidak pantas untuk bermusuhan.
Musuh kita adalah Yahudi, Zionist Israel!
Musuh kita adalah Nasrani yang memerangi Islam, dibawah payung PBB dengan Amerikanya!
Musuh kita adalah Syi'ah, yang dipimpin oleh Iran di seluruh dunia!
Ini musuh kita! Jelas siapa dihadapan kita.
Tetapi umat Islam, dibenturkan oleh isu-isu yang mereka buat (orang-orang kafir termasuk Syi'ah yang buat), semacam isu Wahabi dan segala macamnya. Lahaula wa la quwwata illa billah...
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Di kutip dari kajian Ustadz Zulkifli M. Ali rahimahullah (dengan beberapa perbaikan). Wallahu a'lam bi shawabi
Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang mujadid, ulama Ahlussunnah wal jama'ah. Lihat seluruh kitab-kitab yang ditulisnya, lihat seluruh penyampaiannya, sama dengan yang ada pada umat Islam hari ini. Yang dipakai dan diamalkan oleh NU, yang dipakai dan diamalkan oleh Muhammadiyah, yang dipakai oleh ahlussunnah wal jama'ah yang ada dimana-mana. Tapi yang ditulis, yang di lafazhkan oleh sang Khawarij, abad ke-2 hijriah, yakni Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum, nah ini dia yang sesat menyesatkan. Tapi orang-orang Syi'ah menyematkan ini kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Inilah kebatilan yang nyata!
Lalu umat Islam saat ini mau saja percaya, dan dibentur-benturkan. Betapa prihatinnya, perih hati saya ketika mendengar ada seorang Sunni, diusir oleh saudara Sunninya yang lain. Kenapa? Karena Sunni yang ini (yang mengusir) adalah dari komunitas yang mayoritas, punya kebiasaan mengamalkan tradisi, yang Sunni ini (yang diusir) tidak mau mengikuti (semacam maulid nabi, isra' miraj). Tapi dia tetap baik berhubungan dengan masyarakat. Dianggap dan dibakar-bakar, ini adalah paham Wahabi, sehingga diusir dari kampungya, tidak boleh lagi tinggal di kampung, bahkan diancam mau dibakar. Padahal mereka sama-sama Sunni, yang bertepuk tangan Syi'i (orang Syi'ah). Karena kompor yang mereka nyalakan telah membakar sesama umat Islam.
Harusnya, kaum Muslimin, sadarilah! Semua sifat-sifat Wahabi yang diceritakan oleh saudara-saudara kita yang menyebar dimana-mana, seratus persen ada pada komunitas Syi'ah. Semua sifat-sifat yang ada pada wahabi-wahabi itu, ada pada Syi'ah seluruhnya. Yang maling mereka, yang teriak maling mereka dan mengadu domba sesama umat Islam. Sadarlah!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Sebutkan saudara kita tentang Nahdlatul Ulama (NU), sebutkan saudara kita yang ada di PERSIS, sebutkan saudara kita yang ada di kelompok perjuangan Ikhwanul Muslimin, sebutkan saudara kita yang mana saja yang akan kita sebutkan, mereka ahlussunnah wal jama'ah seluruhnya. Berangkat dari kelebihan dan kekurangan mereka, mereka saudara kita, kita saudara mereka. Kelau setiap kelompok berfikir seperti ini, maka akan ketahuan bahwa kita sesama kita tidak tidak layak untuk dibentur-benturkan, dan tidak pantas untuk bermusuhan.
Musuh kita adalah Yahudi, Zionist Israel!
Musuh kita adalah Nasrani yang memerangi Islam, dibawah payung PBB dengan Amerikanya!
Musuh kita adalah Syi'ah, yang dipimpin oleh Iran di seluruh dunia!
Ini musuh kita! Jelas siapa dihadapan kita.
Tetapi umat Islam, dibenturkan oleh isu-isu yang mereka buat (orang-orang kafir termasuk Syi'ah yang buat), semacam isu Wahabi dan segala macamnya. Lahaula wa la quwwata illa billah...
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Di kutip dari kajian Ustadz Zulkifli M. Ali rahimahullah (dengan beberapa perbaikan). Wallahu a'lam bi shawabi
Menyingkap Fakta Dibalik Adu Domba Wahabi dalam Memecah Belah Umat Islam
By Unknown
Stay Tawadhu' Brother!
“ Orang yang baik adalah orang yang selalu merasa dirinya belum baik “
Ketika iblis mengatakan ia lebih baik dari Nabi Adam ‘alaihissalam karena ia diciptakan dari api, sedangkan Nabi Adam dari tanah dan saat iblis diperintahkan Allah untuk sujud kepada Nabi Adam, ia pun enggan dan sombong, maka ketahuilah, dua kesesatan inilah yang sering menghiasi hidup manusia, yakni karena memiliki berbagai kelebihan, lalu merasa dirinya superior diatas orang lain serta memandang remeh mereka. Orang yang rendah hati atau tawadhu’ akan menghindari sifat memandang rendah orang lain, justru ia akan memuliakan manusia dengan ucapan dan perbuatan yang diridhai Allah.
Karena tawadhu’ merupakan akhlak para Rasul dan para generasi muda yang Sholeh. “Tidaklah Allah menambah pada seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang rendah hati karena Allah, kecuali Allah akan meninggikan orang tersebut”. (H.R. Muslim).
Efek Dahsyat Rendah Hati
Banyak orang menyangka rendah hati identik dengan menghinakan diri, padahal sehebat apapun manusia ia pasti pernah berbuat salah atau dosa.
Alangkah bagusnya sikap rendah hati ini! Yang meyakini bahwa dirinya belum baik sama sekali dibandingkan orang lain. Berbeda dengan kebalikannya adalah sombong, yang sering membuat manusia mengingkari kebesaran Allah, menolak kebenaran dan membanggakan dirinya dengan tujuan agar orang lain tau kehebatannya. Itulah karakter buruk yang sangat dilarang semua Rasul-Nya dan akan berakibat fatal yang justru merugikan.
Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. Asy-Syu’ara`: 215,
الْمُؤْمِنِينَ مِنَ اتَّبَعَكَ لِمَنِ جَنَاحَكَ وَاخْفِضْ
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman“.
Menghargai diri sendiri adalah dengan selalu menghargai orang lain menahan diri untuk bersifat sombong, bersikap tinggi hati, mengedepankan pikiran atau pandangannya sendiri tanpa memandang sama sekali orang lain. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari sifat sombong ini.
Panggul, 28 September 2017
Syafiul Ardi Firmansyah
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Follow IG: @ardisyafiul
Stay Tawadhu' Brother!
By Unknown
Jangan Mendekati Zina!
Jangan mendekati zina!
Dia adalah kelakuan yang keji. Allah menyebutnya sebagai sebuah kelakuan yang keji dan kotor. Jalannya hanya mengarah pada bahaya. Kau ingin mengambil jalan itu? Dia akan menuntunmu ke akhir yang buruk. Dia tak punya akhir yang baik. Tidak ada jalan yang baik. Kau harus kembali. Ini sebagaimana kau di jalan tol dan kau tidak tahu jalan keluarnya. Kau terus melaju, terus melaju, kamana kau akan pergi? Kau akan semakin jauh dan jauh. Ini akan menyebabkanmu tersesat. Kau harus kembali! Dan ambilah jalan yang benar.
Begitu juga, bahkan jangan mendekati zina. Mari kita analisis ini sejenak. Zina, persetubuhan haram, percabulan, ini bisa dilakukan ketika seseorang sudah menikah atau ketika masih lajang. Hukumannya ketika kau sudah menikah lebih besar, daripada hukuman ketika kau masih lajang. Tapi keduanya adalah dosa besar. Keduanya mendatangkan hukuman yang sangat buruk di dunia ini dan juga di akhirat. Jika mereka bertaubat di dunia ini, maka Allah subhanahu wa ta'ala mengampuni mereka. Tapi jika mereka tidak bertaubat darinya, dan mereka meninggal dalam dosa itu, maka Allahu akbar hukumannya sangat mengerikan.
Ini adalah peringatan dari Allah, dengan tujuan untuk menjaga kesucian kita, menjaga moral kita, menjaga keluarga kita, menjaga masyarakat kita, menjaga komunitas kita, Islam melingkupi semuanya. Seorang Muslim berada di dalam sistem ini untuk orang lain, memberi, mengurus masyarakat, komunitas, yang tua dan muda, semua orang.
Di sisi lain, kita hidup dalam masyarakat sekuler dimana hanya tentang individu. Segalanya tentang perseorangan, diri sendiri. Kau bisa melihat dampaknya, keegoisan menjadi sangat tinggi, tak terukur lagi.
Sebagian orang berasumsi jangan mendekati zina artinya kau bisa keluar, kau bisa menyentuh, kau bisa menghabiskan waktu, kau bisa melakukan semua itu asalkan jangan melakukan persetubuhan. Inilah yang mereka pikir. Mereka pikir Allah berfirman "jangan lakukan itu." Jika kau menganalisis ayatnya, Allah tidak berfirman, "Jangan lakukan zina", Dia berfirman "Jangan mendekati zina". Ada perbedaan antara melakukan dengan mendekati.
Jadi terkadang ketika ada sesuatu yang berbahaya, orang memasang pagar, dan pagarnya jauh dari area tersebut. Dan kemudian mereka memberi tanda peringatan, dan jika ini masih berbahaya mereka akan menutup jalannya, sehingga tidak ada jalan di dekatnya. Semakin dekat kau menghampiri, semakin berbahaya hal itu. Jadi jangan mendekatinya!
Allah berfirman kepada kita, jangan mendekati zina! Sebuah tatapan berarti mendekati, sebuah sentuhan berarti mendekati, sebuah kata-kata rayuan di tempat tertutup adalah mendekati. Minta nomor HP, kecupan, sentuhan, semua hal ini mendekati. Allah berfirman jangan mendekati zina. Karena ketika kau mendekati jalan itu, dan jika kau terus melakukannya, hasrat dan hawa nafsumu akan terus menggodamu, akan terus memprovokasimu, dan akan terus merayumu.
Kenapa seorang manusia merasa sangat sulit berhenti darinya? Kenapa kau terus melakukannya? Kenapa hal ini tidak berhasil ketika kita berkata, "Tak apa, aku hanya akan melakukannya sejauh ini. Aku tidak akan pergi lebih jauh lagi. Aku tidak akan terperosok lebih dalam."? Dan akhirnya kau pergi jauh lebih dalam daripada yang kau pikirkan.
Kenapa, kenapa ini terjadi pada manusia? Ini karena sifat alami psikologi manusia yang telah Allah ciptakan, dan Dia Yang Lebih Mengetahui. Dan karena alasan inilah Dia berfirman, laa taqrobu! "Jangan mendekati (zina)!"
-Syaikh Bilal Assad-
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ ۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ فٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."
(QS. Al-Isra': Ayat 32)
Dia adalah kelakuan yang keji. Allah menyebutnya sebagai sebuah kelakuan yang keji dan kotor. Jalannya hanya mengarah pada bahaya. Kau ingin mengambil jalan itu? Dia akan menuntunmu ke akhir yang buruk. Dia tak punya akhir yang baik. Tidak ada jalan yang baik. Kau harus kembali. Ini sebagaimana kau di jalan tol dan kau tidak tahu jalan keluarnya. Kau terus melaju, terus melaju, kamana kau akan pergi? Kau akan semakin jauh dan jauh. Ini akan menyebabkanmu tersesat. Kau harus kembali! Dan ambilah jalan yang benar.
Begitu juga, bahkan jangan mendekati zina. Mari kita analisis ini sejenak. Zina, persetubuhan haram, percabulan, ini bisa dilakukan ketika seseorang sudah menikah atau ketika masih lajang. Hukumannya ketika kau sudah menikah lebih besar, daripada hukuman ketika kau masih lajang. Tapi keduanya adalah dosa besar. Keduanya mendatangkan hukuman yang sangat buruk di dunia ini dan juga di akhirat. Jika mereka bertaubat di dunia ini, maka Allah subhanahu wa ta'ala mengampuni mereka. Tapi jika mereka tidak bertaubat darinya, dan mereka meninggal dalam dosa itu, maka Allahu akbar hukumannya sangat mengerikan.
Ini adalah peringatan dari Allah, dengan tujuan untuk menjaga kesucian kita, menjaga moral kita, menjaga keluarga kita, menjaga masyarakat kita, menjaga komunitas kita, Islam melingkupi semuanya. Seorang Muslim berada di dalam sistem ini untuk orang lain, memberi, mengurus masyarakat, komunitas, yang tua dan muda, semua orang.
Di sisi lain, kita hidup dalam masyarakat sekuler dimana hanya tentang individu. Segalanya tentang perseorangan, diri sendiri. Kau bisa melihat dampaknya, keegoisan menjadi sangat tinggi, tak terukur lagi.
Sebagian orang berasumsi jangan mendekati zina artinya kau bisa keluar, kau bisa menyentuh, kau bisa menghabiskan waktu, kau bisa melakukan semua itu asalkan jangan melakukan persetubuhan. Inilah yang mereka pikir. Mereka pikir Allah berfirman "jangan lakukan itu." Jika kau menganalisis ayatnya, Allah tidak berfirman, "Jangan lakukan zina", Dia berfirman "Jangan mendekati zina". Ada perbedaan antara melakukan dengan mendekati.
Jadi terkadang ketika ada sesuatu yang berbahaya, orang memasang pagar, dan pagarnya jauh dari area tersebut. Dan kemudian mereka memberi tanda peringatan, dan jika ini masih berbahaya mereka akan menutup jalannya, sehingga tidak ada jalan di dekatnya. Semakin dekat kau menghampiri, semakin berbahaya hal itu. Jadi jangan mendekatinya!
Allah berfirman kepada kita, jangan mendekati zina! Sebuah tatapan berarti mendekati, sebuah sentuhan berarti mendekati, sebuah kata-kata rayuan di tempat tertutup adalah mendekati. Minta nomor HP, kecupan, sentuhan, semua hal ini mendekati. Allah berfirman jangan mendekati zina. Karena ketika kau mendekati jalan itu, dan jika kau terus melakukannya, hasrat dan hawa nafsumu akan terus menggodamu, akan terus memprovokasimu, dan akan terus merayumu.
Kenapa seorang manusia merasa sangat sulit berhenti darinya? Kenapa kau terus melakukannya? Kenapa hal ini tidak berhasil ketika kita berkata, "Tak apa, aku hanya akan melakukannya sejauh ini. Aku tidak akan pergi lebih jauh lagi. Aku tidak akan terperosok lebih dalam."? Dan akhirnya kau pergi jauh lebih dalam daripada yang kau pikirkan.
Kenapa, kenapa ini terjadi pada manusia? Ini karena sifat alami psikologi manusia yang telah Allah ciptakan, dan Dia Yang Lebih Mengetahui. Dan karena alasan inilah Dia berfirman, laa taqrobu! "Jangan mendekati (zina)!"
-Syaikh Bilal Assad-
Jangan Mendekati Zina!
By Unknown
Langganan:
Postingan (Atom)











