Kisah Cinta dan Pengorbanan Khadijah

Assalamu'alaikum

Sahabat fillah, kita pastilah mengenal istri Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam, cinta pertama dan ibu dari putra-putri beliau. Khadijah radhiyallahu 'anha, manusia pertama yang membenarkan perkataan Nabi dikala memperoleh wahyu, seorang kekasih yang setia berjuang menemani Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.


Begitu besar perjuangan Khadijah, dia korbankan segalanya untuk membantu perjuangan suami tercinta, untuk bagaimana hari ini kita kenal Allah, dan untuk bagaimana hari ini kita kenal yang namanya Islam.
Sahabat, dua per tiga kekayaan kota Makkah adalah milik Khadijah, tapi di akhir hidupnya tidak ada kain kafan yang menutupi jasad Khadijah. Bahkan dikatakan pakaian yang ia gunakan adalah pakaian yang sangat kumuh, dengan dua puluh tiga tambalan, diantaranya menggunakan kulit kayu. Karena seluruh harta yang ia miliki, telah ia korbankan untuk memperjuangkan agama ini.

Sahabat, dikisahkan...
Suatu hari ketika Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam pulang sehabis berdakwah. Menjadi kebiasaan Khadijah menyambut berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak menyambut, Rasulullah berkata, "Wahai Khadijah, tetaplah engkau di tempatmu."
Khadijah pada waktu itu sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Setelah beberapa saat, Rasulullah kemudian berbaring di atas pangkuan Khadijah. Karena saking lelahnya Rasulullah berdakwah, dengan menghadapi berbagai caci maki dan fitnah manusia kala itu, akhirnya beliau pun tertidur. Ketika itulah, Khadijah dengan lembut membelai kepala suaminya, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Tak terasa air mata Khadijah menetes ke pipi Rasulullah, yang membuat beliau terjaga.

Rasulullah bertanya, "Wahai Khadijah, kenapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku Muhammad? Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan, tapi hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauh darimu. Seluruh harta kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal Wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?"

Khadijah pun menjawab, "Wahai suamiku, wahai Nabi Allah! Bukan itu yang aku tangiskan. Dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku punya kebangsawanan, aku serahkan kebangsawanan itu untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, seluruh harta kekayaan itu pun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya aku telah mati, sedangkan perjuanganmu ini belum selesai. Sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah sungai, dan engkau tidak menjumpai jembatan ataupun rakit, maka engkau galilah kuburku, engkau ambil tulang belulangku, engkau jadikanlah rakit untuk menyeberangi sungai itu agar engkau dapat bertemu dengan manusia. Ingatkan mereka kepada dosa dan Allah. Ingatkan mereka kepada yang haq. Ajaklah mereka kepada Islam, wahai Rasulullah."

Sahabat, bayangkan, seorang Nabi yang agung, seorang istri yang setia, kedua suami istri ini pun berpelukan sambil menangis memikirkan agama ini.

Sahabat fillah, perlu kita camkan, bahwa agama ini bisa sampai ke kita bukan dengan mudahnya. Bukan dibawa oleh hembusan angin, bukan pula dibawa oleh air sungai yang mengalir. Tetapi  dibawa oleh pengorbanan Rasulullah dan para sahabat. Dibawa oleh pengorbanan istri-istri  Rasulullah. Dibawa oleh pengorbanan janda para sahabat, dan dibawa oleh pengorbanan yatim-yatim para sahabat.

Hari ini, kita seringkali bersenang-senang beramal di atas penderitaan para sahabat. Hari ini, kita seringkali bersenang-senang di atas penderitaan Khadijah radhiyallahu 'anha. Hari ini kita seringkali bersenang-senang diatas penderitaan dan jeritan janda dan yatim para sahabat.

Sahabat, jika hari ini kita tidak menghargai pengorbanan mereka. Apa yang harus kita jawab di hadapan Allah nanti? Apa yang harus kita jawab di hadapan Nabi, jikalau nanti kita bertemu dengan beliau? Apa yang akan kita jawab kalau kita berjumpa dengan Khadijah, sedangkan ia telah mengorbankan segalanya untuk agama ini? Apa yang akan kita jawab kalau kita berjumpa sahabiah-sahabiah, yang telah merelakan suami-suami mereka syahid di medan perang? Apa yang akan kita jawab kalau kita berjumpa anak-anak yatim para sahabat, sedangkan mereka telah mengorbankan ayah-ayah mereka untuk memperjuangkan agama ini?

Maka sahabat, mulailah hari ini kita menghargai pengorbanan mereka. Kita amalkan ajaran agama ini dengan sebenar-benarnya, dan gelorakan seruan dakwah kepada saudara-saudara kita. Jika kita merasa begitu berat untuk melakukannya, kembali ingat pengorbanan mereka yang dulu. Wallahi, pengorbanan kita untuk agama ini masih belum ada apa-apanya dibanding mereka, maka bersabarlah dan tetaplah istiqomah!

Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum

Kisah Cinta dan Pengorbanan Khadijah

Kisah Muwahidun Nabi Yusuf dan Para Serigala

Anak-anak Nabi Yakub yang telah berumur dewasa cemburu dengan cinta sang Ayah kepada saudaranya. Mereka mengambil Yusuf dari pangkuan ayahnya dengan alasan akan membawa dia untuk bermain tombak. Meskipun hati Nabi Yakub tak rela, kakak-kakaknya sudah membawa Yusuf jauh ke gurun pasir.


Setelah beberapa saat bermain, mereka makan dan menceritakan sebuah rahasia. Mereka pun mulai berkata, kami akan melemparmu ke sumur ini dan kemudian kau akan kami selamatkan. Dan kisah pun berjalan seperti yang telah tertuang dalam sejarah.  Jika kau bertanya, "Bagaimana bisa saudara melempar saudara kandungnya ke sumur?" Inilah dunia....Waktu berlalu, orang-orang baik akan beruntung di antara zaman. Begitu kata para leluhur.

Seandainya saudara-saudaranya tak melempar Yusuf ke sumur, para pedagang takkan menemukannya dan membawanya ke Mesir. Seandainya di Mesir dia tak dijual sebagai seorang budak, Yusuf takkan mendapat murka Zulaikha. Seandainya dia tak dipenjara karena amarah Zulaikha yang terbakar oleh cintanya maka dia takkan pernah dijadikan penasehat oleh Raja Mesir. Seandainya Yusuf tak dijadikan penasihat, Mesir takkan terselamatkan dari kelaparan.

Di alam semesta ini, semua berhubungan satu sama lain.
Jika tak seperti itu, hal-hal duniawi takkan seperti ini.
Nabi Yakub begitu sering menangis setelah kepergian putranya Yusuf. Begitu banyak meneteskan air mata sampai para malaikat berpikir bahwa terjadi badai topan kedua di dunia...

Dia tak percaya dengan ucapan anak-anaknya yang telah dewasa. "Saudara kami telah dimangsa serigala". Pikiran sang ayah melayang ke padang pasir.

Dia menemukan sarang serigala di tengah gurun. Ketika dia bertanya sambil menangis, "Apakah kalian yang memangsa putraku?"

Para serigala pun meneteskan air mata dan bersumpah kepada Nabi Yakub, "Kami bersumpah kami tak memangsanya." Dalam sarangnya, serigala itu memillki dua belas putra, sama seperti Nabi Yakub. Demi ketenangan hati Nabi Yakub, serigala mengikat mulut putra-putra mereka dan berjanji hanya akan memakan rerumputan sampai Yusuf ditemukan.

Nabi Yakub kagum dengan kesetiaan dan ketulusan para serigala.
"Siapakah kalian?"tanyanya. "Kami adalah Muwahidun". Itu jawaban yang diberikan. Mereka kemudian bergabung diantara empat puluh rusa. Berhari-hari lamanya, para serigala dan empat puluh rusa berjalan bersama mencari Yusuf.
Entah bagaimana caranya, mereka menemukan sebuah sumur yang menyebarkan aroma bunga geranium, memandang cahaya yang menjulang tinggi dari sumur. Mereka memohon kepada Tuhan yang Agung, kemudian menyaksikan malaikat turun ke sumur dari langit. "Kita telah menemukan Yusuf", ucap mereka...

Mereka berlari sambil meneteskan air mata, mencoba untuk memberikan kabar kepada Nabi Yakub bahwa putranya masih hidup. Empat puluh rusa bersama serigala berjalan berdampingan di gurun. Seorang pemburu menyadari keanehan ini. "Dibalik semua ini pasti ada sesuatu yang luar biasa", ucapnya dalam batin. Dia lantas mengikuti mereka. Pemburu penyembah berhala menangkap mereka semua dalam satu jebakan. "Kalian", ucapnya kepada para Muwahidun, "Kalian sangat aneh. Bagaimana bisa serigala tak memangsa rusa! Pasti kalian melindungi sebuah harta karun yang besar. Jika kalian tak mengatakan yang sebenarnya, setiap langkah yang aku langkahkan maka aku akan memotong leher kalian satu per satu!"

Image via Pixabay

"Jangan!" ucap pemimpin serigala, "Lepaskanlah kami, wahai pemburu yang tangguh. Kami para serigala pulang karena cinta kami kepada Nabi Yusuf. Kami bersumpah takkan kembali lagi. Lepaskanlah kami, biarkan kami menemui Nabi Yakub."

Rusa-rusa melempar tubuh mereka ke depan. "Jika kau akan memotong leher kami semua, wahai pemburu, biarkan kami saja yang merasakan piasu tajam itu." Pemburu yang menyaksikan keanehan ini mengerti bahwa harta karun ini sangat besar, sesuai dengan sumpah-sumpah yang mereka katakan. Seketika dia pun bergerak, "Siapa itu Yakub?". Setiap satu langkah, semua rusa mati di tangannya. "Masihkah kalian diam? Kesabaran apa ini!" ucap pemburu marah kepada para serigala.

"Kami para serigala bersumpah sebagai Muwahidun untuk mengikat mulut kami. Manusia seperti apa dirimu ini, membalikkan badan kepada seorang nabi yang menangisi putranya", ucap mereka. "Kalian semua akan kupotong!" ucap pemburu yang semakin murka. "Jika ini memang takdir, terjadilah," ucap mereka seraya membungkukkan badan. Kedua belas serigala pun menyusul rusa.

Setelah pembantaian itu, pemburu tertegun ketika melihat lima puluh dua jasad yang terbaring di tanah. "Apa yang telah aku lakukan?" ujarnya sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun menguburkan mereka semua. Sebagai sebuah isyarat bagi para pejalan, dia juga menanam empat puluh pohon cemara untuk empat puluh rusa. Setelah menanam empat puluh pohon cemara dan membalikkan badannya, dia melihat keajaiban! Dari kuburan dua belas Muwahidun serigala terpancar mata air. Sang pemburu mematahkan anak panahnya satu per satu, melempar pisaunya, menjeratkan tali ke lehernya, dan berubah menjadi orang gila. Dia lupa bagaimana berjalan dan berbicara, meraung seperti serigala, dan berjalan seperti rusa-rusa di gurun pasir.

Pemburu yang berkeliaran tak tentu arah ini menimbulkan kecurigaan sebuah rombongan pejalan. Tak mengindahkan peringatan dan pertanyaan pemimpin rombongan, pemburu justru berlari kencang. Rombongan pejalan mengejarnya seraya melepaskan anak panah. Sampailah mereka di pohon empat puluh rusa. Pemburu menghembuskan napas terakhir di depan dua belas mata air.

Rombongan yang kini dengan jelas menyaksikan lima puluh dua kuburan berdampingan menanyakan kepada seorang tua yang mata dan hatinya terbuka. Orang tua itu menyelupkan telapak tanganya ke dalam air. Melihat air sejernih kristal di tangannya, "Ini adalah para Muwahidun", ucapnya.

Rombongan kemudian juga menyadari bahwa ranting-ranting keempat puluh pohon menunjuk ke arah sumur yang berada jauh sana. Sumur yang memancarkan cahaya ke langit. Seketika, mereka berlari dan tiba di sumur. Mereka melempar sebuah tali ke dalam sumur. Mereka menyelamatkan Yusuf, keindahan dunia.

Manusia mengikuti hawa nafsunya, membutakan mata hati dan membuang saudara kandungnya. Sementara itu, para Muwahidun setia di jalan cinta, walaupun mereka seekor serigala. Menjaga rahasia, tak mengingkari janjinya. Jika memang harus, mereka siap untuk mati."

- - - - - - - - - - - - - -

Dikutip dari Novel "Asiyah Sang Mawar Gurun Fir'aun" karya Sibel Eraslan

Kisah Muwahidun Nabi Yusuf dan Para Serigala

Kisah Mengharukan Syaikh al-Albani dengan Seorang Moderator

Assalamu'alaikum

Sahabat fillah, pasti sudah tak asing lagi di telinga kita nama Syaikh al-Albani rahimahullah. Beliau adalah seorang ulama hadits yang masyhur dan seorang mujadid (pembaharu Islam) pada abad ini. Keilmuannya sudah tidak diragukan lagi, banyak sekali karya-karya yang beliau buat sebagai bentuk dedikasinya untuk kemajuan umat Islam.



Syaikh al-Albani adalah tokoh yang sangat sederhana. Disamping kegiatannya dalam dalam berdakwah dan menuntut ilmu, beliau juga bekerja sebagai tukang jam, meneruskan bakat dari ayahnya. Namun, dibalik kesederhanaan beliau, Syaikh al-Albani adalah seseorang yang kokoh dan pantang menyerah dalam menggelorakan dakwah Islam. Begitu banyak fitnah yang dituduhkan kepada Syaikh al-Albani, tapi itu semua tidak membuatnya goyah dan berhenti bergerak. Hidup sepenuhnya untuk menuntut ilmu dan berdakwah.

Ketika pujian datang kepada Syaikh al-Albani...



Sahabat, disini ada kisah menarik  dari perjalanan dakwah Syaikh al-Albani yang bisa kita jadikan tauladan. Ini bermula ketika dalam suatu kajian ilmu, seorang moderator bernama Syaikh Ibrahim memperkenalkan Syaikh al-Albani dengan memuji keilmuan dan kebaikan beliau. Kemudian moderator mempersilahkan Syaikh al-Albani untuk berbicara agar semua yang hadir bisa memperoleh ilmu dari seorang ulama besar.

Setelah dipersilahkan untuk  berbicara, Syaikh al-Albani dengan lemah lembut kemudian menyampaikan sebuah curahan hati dan juga nasehat yang membuat beliau sendiri menangis dalam mengucapkannya. Beliau rahimahullah mengatakan:

"Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan hanya kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Sungguh sebenar-benar perkataan adalah perkataan Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang di ada-adakan (dalam agama), setiap yang di ada-adakan (dalam agama) adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Saya berterima kasih kepada ustadz Ibrahim, atas ucapan dan pujiannya. Saya tidak bisa menjawab apa-apa kecuali mengikuti contoh dari khalifah pertama, Abu Bakar ash-shiddiq radhiallahu anhu. Seorang khalifah yang pertama dan sejati, pengganti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika beliau mendapatkan pujian dari seseorang, saya yakin sanjungan orang tersebut kepada beliau pastilah ada pada diri beliau, karena beliau yang menggantikan Rasulullah (khalifah). Kemudian...

Syaikh Albani berhenti sejenak kemudian menangis

Allahu Musta'an...
Kemudian beliau (Abu Bakar ash-shiddiq) mengucapkan, "Ya Allah, janganlah Engkau menyiksaku karena apa yang mereka katakan. Jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka sangka, ampunilah aku dari hal yang tidak mereka ketahui."
Inilah yang diucapkan orang seperti Abu Bakar ash-shiddiq. Lalu apa yang mesti kita ucapkan, orang-orang setelahnya? Jadi, saya pun mengikuti apa yang beliau ucapkan. Ya Allah, janganlah Engkau menyiksaku karena apa yang mereka katakan. Jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka sangka, ampunilah aku dari hal yang tidak mereka ketahui.
Jika itu kebenaran, maka saya akan mengatakannya...
Saya bukanlah orang seperti yang disebutkan saudara kita Ibrahim..
Saya hanyalah seorang penuntut ilmu, tidak lebih dari itu..."

Seperti itulah sahabat, kata-kata pembuka yang beliau sampaikan. Ini seharusnya menjadi tamparan keras untuk kita semua, yang mungkin merasa bangga bahkan sombong tatkala ada memuji diri kita. Semoga kita dapat meneladaninya sahabat, disaat ada seseorang yang memuji kita, bukanlah sikap bangga yang harus kita pertontonkan. Tapi sikap rendah hati sambil berdo'a seperti do'anya Abu Bakar ash-shiddiq radhiallahu anhu. Semoga Allah menjaga kita dari sifat ujub dan sombong, serta memudahkan kita untuk muhasabah diri di setiap harinya.

Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum

Kisah Mengharukan Syaikh al-Albani dengan Seorang Moderator

Pentingnya Rasa Cemburu

Berikut ini kisah tentang bagaimana pentingnya rasa cemburu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA di salah satu kajian beliau:


"Ingat kisah waa Mu'tashimaah? (Perempuan yang memanggil Al Mu'tashim)
Kisah ini banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab  yang banyak sekali. Diantara kisahnya, bahwasanya ada seorang syarifah. Dikatakan dia masih ada keturunan dengan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Dia ditawan oleh orang-orang Romawi. Dia digodain di sana. Ketika dia digodain sama orang Romawi, wanita ini mengatakan, "waa Mu'tashimaah?" "Kemana Mu'tashim?", kata dia.

Khalifahnya pada waktu itu Mu'tashim. Yang godain ni perempuan mengatakan, "Kemana Mu'tashim gak bakal denger engkau!". Salah satu orang muslim disitu (yang melihat kejadian itu) berangkat menuju ke Baghdad menyampaikan, bahwasanya ada seorang wanita muslimah, satu orang wanita muslimah di sana. Yang dia mengadu mengatakan "waa Mu'tashimaah", kata orang-orang Romawi gak bakal ada Mu'tashim.

Mu'tashim disebutkan pada waktu itu sedang istirahat. Ketika dia dengar seperti itu, Mu'tashim lalu mengatakan, "Labbaiki! Labbaiki! (Aku datang! Aku datang!)", kata dia. Digerakan umat Islam itu untuk menaklukkan Amoria (Amorion). Sampai 6 bulan itu nunggu penaklukan Amoria demi untuk menyelamatkan ini wanita. Imro'ah wahidah (hanya satu wanita)!.

Bagaimana kecemburuan ummat Islam pada waktu itu, antum pernah gak cemburu ketika mendengarkan......
saudari-saudari kita diperkosa, di Syam sana, di Suriah sana oleh tentara-tentara Bashar Asad. Pernah antum terasa cemburu dengan mereka?

Wallahi sekali-kali kalau antum sudah sibuk dengan dunia, antum cari di youtube sana. Saudari-saudari kita yang jadi korbannya Bashar Asad.
Wallahi kadang kalau sudah mati yang namanya kecemburuan kita terhadap wanita-wanita muslimah."

-Ust. Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA.-

Itulah sahabat, semoga dapat dijadikan renungan bagi kita semua, agar lebih peduli terhadap saudara dan saudari kita. Cemburu tidak melulu kaitannya dengan kekasih, tapi cemburu itu harus ada terhadap saudara dan saudari kita seiman, sehingga timbul kepedulian kita kepada mereka.

Rasulullah ahallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang dibawakan oleh an-Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhu :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْمَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ (وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ).
"Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur." [HR. Bukhâri dan Muslim]

Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum

Pentingnya Rasa Cemburu

Bolehkan Menikahi Dia yang Punya Masa Lalu Buruk?

Assalamu'alaikum

Sahabat, berikut saya sampaikan potongan kajian dari Ust. Hanan Attaki. Beliau menjawab pertanyan salah seorang perempuan yang bertanya tentang hukum menikahi dia yang punya masa lalu buruk. Silahkan disimak, dan semoga bermanfaat.


Pertanyaan:
Dari seorang fulanah,

"Saya pernah dengar ceramah salah satu ustadz di Indonesia, bahwa kalau kita memilih suami itu jangan yang punya masa lalu buruk. Katanya kan nanti takutnya imbas ke rizkinya. Karena pernah ada suami istri yang datang ke tempat beliau, kemudian pas ditanya pernah melakukan dosa besar atau tidak, ternyata si suami itu pernah melakukan. Nah, karena hal itu, dalam rumah tangga tersebut akhirnya rizkinya agak susah. Dari si istri dan suami pun menceritakan bahwa suaminya tidak dapat-dapat kerja, terus istrinya juga tidak hamil-hamil. Nah, jika ada seorang laki-laki yang mau khitbah kita, dengan masa lalu yang kelam sekali. Tetapi laki-laki tersebut sudah bertaubat nasuha dan sudah hijrah dan sudah kembali baik. Kalau dari kitanya sudah menerima, tapi karena kita udah pernah denger kajian tersebut, itu bagaimana ya ustadz? Tolong penjelasannya..."

Jawaban:
Oleh Ustadz Tengku Hanan Attaki, Lc.

"Saya pengen sharing cerita Umar bin Khattab melamar salah satu putrinya Ali bin Abi Thalib. Dan kita tau-kan masa lalunya Umar, yang begiu kelam, yang pernah melakukan dosa-dosa besar, bahkan dosa syirik, membunuh, dan seterusnya. Ketika Umar jadi khalifah, Umar datang kepada Ali. Dia bilang, "Ya abal Hasan, saya itu sudah punya hubungan dengan Rasulullah lewat Hafsah (anaknya Umar yang menjadi istri Rasul). Nah, saya pengen menyempurnakan kekeluargaan saya dengan cara membangun hubungan dengan kamu, Ali. Saya pengen melamar putrimu, ya Abal Hasan"
Dan Ali ternyata mau menikahkan putrinya dengan Umar bin Khattab. Seandainya kaidah itu berlaku dalam segala urusan, pasti Ali lebih selektif daripada kita. Karena Ali itu, tau kan..yang nggak pernah, maaf, melihat auratnya sendiri nggak pernah. Itu Ali ya, auratnya sendiri aja nggak pernah liat. Bayangin, orang seterjaga Ali ini, mau menikahkan putrinya yang sangat terjaga juga, putri yang luar biasa, dengan orang yang punya masa lalu seperti Umar bin Khattab.

Jadi, Allah tidak melihat masa lalu kita, jika kita sudah menutupnya dengan taubat. Masa lalu itu baru mempengaruhi masa depan kita, kalau kita belum bertaubat. Akan mempengaruhi rizki, mempengaruhi keberkahan hidup, mempengaruhi ilmu, iya, kalau belum bertaubat. Tapi kalau sudah bertaubat, maka Allah saja sudah menghapus. Siapa kita untuk tidak melupakannya? Allah saja sudah melupakan. Allah saja sudah memuliakan hambanya yang bertaubat. Hari dia ber-istighfar, hari itu dia jadi kekasih Allah. Kalau dia jadi kekasih Allah, kenapa kita nggak mau jadi kekasihnya?

Walaupun, kalau ada dua pilihan, kita memilih yang paling bersih masa lalunya, bukan berarti kita menjudge orang ini kotor, tidak. Hanya untuk mungkin, lebih nyaman aja buat kita. Itu subjektif ya. Tapi kalau dari sisi agama, Allah menyama ratakan hamba-Nya yang punya masa lalu seburuk apapun, asalkan masa sekarangnya sama-sama beribadah dan taat kepada Allah.
Jadi, cerita Umar sama Ali itu jadi contoh, bahwa Ali nggak liat masa lau Umar. Kalau liat itu pasti nggak ada yang mau jadi Istrinya Umar."

Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum

Bolehkan Menikahi Dia yang Punya Masa Lalu Buruk?

Kunci Sukses dalam Mengatasi Masalah Hidup

Assalamu'alaikum

Sahabat fillah, setiap orang pasti pernah mendapatkan masalah, mulai dari masalah kecil sampai yang besar. Dan ketika masalah itu datang, kita tidak bisa lari darinya, melainkan harus diselesaikan hingga tuntas. Tapi, pernahkan kita mendapatkan masalah yang begitu besar, sehingga membuat kita merasa bahwa tidak ada lagi penyelesaian, tidak ada lagi jalan keluar dari masalah itu.


Kita telah meminta tolong kepada banyak orang, mencoba berbagai cara yang bisa kita lakukan, tapi masalah itu tetap saja tak terselesaikan. Jalan buntu, itu yang selalu kita temui.

Di saat seperti itu sahabat, sebenarnya ada satu cara yang terkadang kita lupakan. Padahal cara itulah yang paling jitu untuk menyelesaikan masalah kita. Yaitu dengan cara meminta tolong kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Allah-lah satu-satunya yang mempunyai jalan keluar dalam setiap masalah kita, dalam setiap kebuntuan hidup kita. Libatkan Allah, maka masalah apapun akan terselesaikan.

Nabi Musa 'alaihi salam dalam masalahnya...

Kita coba belajar dari beberapa kisah perjalanan Nabi Musa yang dijelaskan dalam Al-Qur'an. Salah satu kisahnya adalah ketika Nabi Musa dan kaumnya yang tengah lari dari kejaran pasukan Fir'aun yang ingin membantainya. Pada waktu itu, Nabi Musa dan kaumnya lari hingga sampai ke tepi pantai. Sampai disana, tidak ada lagi jalan untuk lari. Yang ada hanyalah lautan luas yang tidak mungkin dilewati. Padahal Fir'aun dan pasukannya semakin dekat dan sudah nampak di depan mata. Pasukan yang siap membantai habis Nabi Musa dan kaumnya. Melihat pasukan Fir'aun semakin dekat, sedangkan tidak ada lagi jalan untuk lari, kaum Nabi Musa pun mulai gentar dan putus asa. 

فَلَمَّا تَرٰٓءَا الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحٰبُ مُوسٰىٓ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
"Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, "Kita benar-benar akan tersusul.""
(QS. Asy-Syu'ara': ayat 61)

Mendengar perkataan kaumnya itu, Nabi Musa kemudian secara tegas membantah mereka.

قَالَ كَلَّآ  ۖ  إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ
"Dia (Musa) menjawab, "Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.""
(QS. Asy-Syu'ara': ayat 62)

Nabi Musa mengatakan itu dengan penuh keyakinan kepada Allah, bahwa Allah pasti akan menolongnya. Dan benarlah, karena keyakinan itulah Allah kemudian menolong Nabi Musa dan kaumnya.

Allah Ta'ala berfirman:
فَأَوْحَيْنَآ إِلٰى مُوسٰىٓ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ  ۖ  فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
"Lalu Kami wahyukan kepada Musa, "Pukullah laut itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar."
(QS. Asy-Syu'ara': Ayat 63)

Nabi Musa dan kaumnya pun melewati laut yang terbelah itu dengan selamat, sedangkan Fir'aun dan pasukannya yang juga membuntuti dibelakang menemui kebinasaan. Laut kembali menyatu dan menenggelamkan mereka sebelum mereka sampai ke pantai seberang. Itulah cara Allah dalam menolong hamba-Nya.

Sahabat...
Dari kisah tersebut, dapat kita ambil kesimpulan bahwa sebesar apapun masalah kita, selalu ada jalan keluar. Dan jalan keluar itu ada di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Maka mintalah tolong kepada Allah dengan penuh keyakinan. Ingat, dengan penuh keyakinan! Karena Allah tidak akan menolong seseorang yang dia ada perasaan ragu terhadap pertolongan Allah. Sebaliknya, ketika dia yakin 100% kepada Allah, maka pasti Allah akan tolong dia. Pasti, Allah akan berikan jalan keluar, dan solusi dalam semua masalah kita.

Itulah sahabat, mari kita mulai biasakan untuk melibatkan Allah dalam setiap masalah kita, jangan sedih, ingatlah...inallaha ma'ana (sungguh, Allah bersama kita)

Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum

Kunci Sukses dalam Mengatasi Masalah Hidup

My Masjid, My Adventure!

Assalamu'alaikum

Sahabat fillah, masjid adalah tempat ibadah umat islam. Masjid adalah tempat yang suci, yang paling di cintai oleh Allah subhanahu wa ta'ala. 

Disebutkan dalam hadits yang shahih, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya, dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya"
(HR. Muslim)



Maka, seharusnya masjid yang begitu dicintai Allah, juga menjadi tempat favorit untuk kita datangi, karena keberkahan begitu besar ada di dalamnya. Namun ironisnya, masyarakat terutama kaum muda mudi malah malas untuk melangkahkan kaki ke masjid, tapi dengan senangnya pergi ke pantai, ke cafe, dan ke tempat hiburan-hiburan lainnya. 

Betapa banyak generasi Islam yang mampu mendaki ribuan meter ke puncak gunung dengan gagahnya, tapi untuk melangkah ke masjid yang hanya di sebelah rumah ia tidak mampu. Tidak ada sama sekali kecintaanya kepada masjid, apalagi untuk memakmurkannya. 

Inilah yang harus kita ubah sahabat. Bagi umat Islam, masjid bukan hanya tempat untuk sholat, tapi juga sebagai tempat untuk sharing ilmu-ilmu Islam, aktivitas sosial dalam rangka ta'awun, dan tempat yang paling ideal untuk menenangkan hati dan pikiran. My masjid my adventure, itu berarti kemanapun kita pergi, kita tidak lupa dengan masjid. Di saat kita dalam perjalanan ke suatu tempat, maka masjid adalah yang paling kita cari dalam perjalanan itu. Masjid sebagai tempat kita hangout bersama teman-teman, dan tentunya tempat kita mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya.

Apalagi jika kita dalam kondisi sedih, galau, karena begitu banyaknya masalah yang kita hadapi, maka masjid adalah satu-satunya tempat yang paling pas, untuk menghilangkan kesedihan dan kegalauan kita. Di sanalah tempat yang paling ideal untuk menuangkan semua perasaan kita kepada Allah. 


Seperti halnya kisah sahabat Nabi, Julaibib. Ia yang mempunyai masalah dalam hal percintaan, dimana tidak ada satupun wanita, baik merdeka maupun budak yang mau ia lamar, karena kondisi Julaibib waktu itu adalah budak, tidak punya harta, dan wajah yang juga biasa-biasa saja, membuat setiap kali ia datang melamar wanita, selalu ditolak. Hingga kemudian Julaibib datang ke masjid untuk mengadukan masalahnya ke Allah subhanahu wa ta'ala. Masjid menjadi tempat Julaibib untuk curhat ke Allah, dan meminta bantuan-Nya. Tak lama kemudian, datanglah pertolongan Allah melalui Rasulullah, Julaibib atas nasehat Rasulullah kemudian melamar seorang putri kepala suku. Tak disangka, putri cantik berstatus anak kepala suku masyhur itu malah dengan senang hati menerima lamaran Julaibib. Disaat wanita lain, bahkan budak menolak lamaran Julaibib, perempuan berpendidikan menerima Julaibib atas dasar taqwa. MasyaaAllah, inilah keajaiban yang Allah berikan kepada Julaibib. Kita pun harusnya juga seperti itu. Tak perlu lagi bingung mau kemana jika galau menghampiri, datang saja ke masjid, dan adukan semuanya ke Allah. Lalu yakinlah, Allah bukan hanya akan menghapuskan kegalauan, tapi juga memberikan pertolongan. Hasbunallah wa nikmal wakiil.

Sahabat..

Terakhir, kejayaan umat Islam tidak datang dari cafe-cafe, tidak pula datang dari pasar, tapi kejayaan umat Islam, datang dari masjid! Mari, kita serukan gerakan my masjid, my adventure, dimulai dari diri kita, lalu keluarga, dan teman-teman kita. Keep hamasah!

Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum

My Masjid, My Adventure!