Dongeng-Realita : Perempuan, Cinta, dan Pernikahan – Ini adalah sepucuk nasehat cinta untuk kita semua. Nasehat yang pantas kita jadikan renungan dalam menghadapi sebuah hubungan.

Perempuan, Cinta, dan Pernikahan - MuslimBaper.web.id
"Ini bukan dongeng" via MuslimBaper.web.id

Perhatikan cara berpikir kita yang terlanjur kacau dan penuh polusi.

TV dan majalah, adalah yang pertama kita lihat untuk mencari solusi. Operasi plastik, diet, dan berbagai obat, tetap saja tidak mengalami kemajuan. Putus asa setelah menumpuk uang, dan tidak mengerti mau diapakan. Mencoba solusi bersama wanita sampai pada perzinahan, hingga kemudian si perempuan tidak tahu siapa ayah dari bayi yang digendongnya.

Catatan : Bolehkan Menikahi Dia yang Punya Masa Lalu Buruk?

Kita sangat ketakutan terhadap komitmen, tapi tidak masalah dengan segala kerusakan (akibatnya). Ia telah mengandung bayimu tapi kamu tidak pernah terketuk dan mempertimbangkan pernikahan.

Lihat, ini yang terjadi ketika kita mengabaikan.

Allah telah memberikan contoh, yaitu Maryam (Nasrani memanggilnya Maria). Dialah seorang perempuan yang memiliki kesempurnaan sejak lahirnya, perempuan terbaik yang berjalan di lobi langit, dan perempuan terbaik yang berjalan di muka bumi. Yang paling mulia pada zamannya. Namanya diabadikan menjadi salah satu surat dalam Al-Qur’an.

Ia adalah wanita terbaik yang harusnya menjadi contoh untuk diikuti. Itulah kenapa Muslimah berpakaian sepertinya, seperti Maryam, yang ketika Allah perintahkan sesuatu, maka kita dengarkan dan taati.

Maryam memakai pakaian tertutup, tak peduli apa kata orang lain. Ia bersembunyi dalam waktu yang panjang, dan kepada Allah ia panjatkan do’a. Tatkala malaikat mengunjunginya dalam rupa seorang laki-laki dan berkata, “Jika engkau takut kepada Allah maka keluarlah!” Karena ketahuilah bahwa Maryam tidak ingin bersama laki-laki asing (yang tidak ia kenal).

Hari ini kita diajarkan tentang persamaan gender, tujuannya mendukung segala bentuk kebebasan individu. Mulai dari cara berpakaian yang hanya membawamu kepada kerendahan.

Mereka berkata, “Mengapa kamu memakai cadar?”, “Kami harus mengenali kamu!”, tapi di sini sedikit yang menghargai haknya. Hak sebagai perempuan yang takut kepada Allah dan ingin berkomitmen terhadap perintah agamanya.

Perhatikanlah, kita harus menghargai hak-hak wanita karena begitulah agama Islam mengajarkannya. Seorang laki-laki harus menundukkan pandangannya, tidak perlu melihat pernak-pernik perempuan (non-mahram) yang lewat. Bahkan kita tidak perlu bersalaman dengan mereka, karena pada dasarnya hanya ada satu alasan laki-laki ingin dekat dengannya.

Mungkin diantara kita ada yang tidak setuju, tapi jangan salahkan saya mengungkapkan sebuah kenyataan. Ketahuilah bahwa industri pornografi telah merauk miliaran rupiah, tapi kita masih saja belum mengerti apa masalahnya.

Seks sudah mengakar ke dalam tatanan masyarakat. Mereka mengeksploitasi perempuan untuk berjualan mobil. Tolong jangan kaget seolah-olah kita baru mengetahui kenyataan ini. Tapi sadarlah betapa berdosanya kita (membiarkan itu terjadi).

Coba kita mulai dari hal sederhana, tentang bagaimana harusnya kita berpakaian.

Seolah-olah ketika seseorang berpakaian mini maka dikatakan sebagai orang yang sukses. Mereka (orang-orang liberal) bahkan memaksakan perempuan untuk memakai hak tinggi, dan kemudian menuduh Islam memasung perempuan. Mereka menyuruh perempuan berpakaian ketat untuk membuka peluang.

Tapi kita terlanjur kehilangan akal sehat, dengan bangganya mereka mengatakan, “Coba lihat yang sudah dilakukan gadis-gadis itu untukku.” Maka kita tidak sepenuhnya menyalahkan perempuan karena kita punya tanggung jawab.

Nabi Muhammad bersabda, “Sebaik-baik mukmin adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik mereka adalah yang berbuat baik kepada istrinya.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok terbaik kepada istri-istri beliau. Sebagai contoh adalah istri beliau, ‘Aisyah. Rasulullah pernah beradu lari dengannya sambil tersenyum hanya demi menyenangkannya.

Jadi ketika nanti engkau menikah, menikahlah dengan tujuan meraih surga-Nya, tempat yang harus engkau rencanakan untuk membawa istrimu. Tapi, kalau justru yang pertama ada di pikiranmu adalah memboyongnya ke panggung gedung, mungkin engkau harus mengubah cara berpikirmu, karena alasanmu menikahinya hanya kesan luarnya saja. Sadarlah bahwa kelak engkau akan seperti terkunci dalam penjara.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perempuan dinikahi karena 4 hal, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, tapi yang terpenting adalah nikahilah perempuan karena agamanya." (HR. Bukhari). Kerena wanita tanpa agama akan sedikit kebijaksanaannya. Sementara kita ingin hidup bersama sampai akhir hayat dengan penuh kasih sayang. Maka kita tetap meminta perlindungan kepada Allah.

Referensi lain : Sosok Perempuan yang Harus Dipilih untuk Dinikahi

Hubungan sesama manusia itu rapuh, tidak ada yang menjamin engkau mampu menjadi penyelamat. Jadi, berbaik-baiklah kepada istrimu nanti, maka Allah akan lebih baik lagi kepadamu. Jadilah laki-laki yang mampu berdiri di depannya, dan di waktu lain berdiri di sampingnya.

Ingatlah, jika engkau masih ingin mencari perempuan baik-baik, jangan dengan cara mengejarnya. Tapi kejar ridha Allah terlebih dahulu, nanti Allah akan jaminkan untukmu menemukannya.

- - - - - - -
Nasehat dari Kamal Saleh dalam videonya yang berjudul Love Marriage & Fairytales
Transkripsi & Artikel MuslimBaper.web.id

Dongeng-Realita : Perempuan, Cinta, dan Pernikahan

Hukum Mengejek Jomblo, Haram atau Halal? - Menjadi seorang jomblo memang terkadang penuh dengan resiko. Apalagi di zaman now ini, sahabat yang menjomblo harus siap menjadi samsak ejekan bagi mereka yang bangga dengan pacaran.

Hukum Mengejek Jomblo - MuslimBaper.web.id
"Dasar Jomblo!" via MuslimBaper.web.id

"Dasar Jomblo!", "Kasihan lu mblo, gak laku-laku!", "Sandal aja punya pasangan masa lu kagak!"

Kata-kata di atas mungkin pernah sahabat dengar karena status jomblo yang sahabat terima, atau mungkin -dulu- sahabat ada yang pernah mengucapkannya kepada orang lain. Ejekan yang bisa jadi itu hanya lelucon, atau memang benar-benar sebagai penghinaan terhadap diri seseorang.

Maka di sini kita harus tahu bagaimana Islam memandang berbagai ejekan-ejekan tersebut.

Sebagai motivasi : Ketika Takdir Berkata Lain, Dia Bukan Jodohku

Renungkan, Haram Mengejek Jomblo!

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰىٓ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰىٓ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ  ۖ  وَلَا تَلْمِزُوٓا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقٰبِ  ۖ  بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمٰنِ  ۚ  وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. al-Hujurat: 11)

Sahabat, firman Allah di atas adalah larangan nyata bagi setiap orang yang beriman untuk mengejek orang lain. Allah mengharamkan setap ejekan (karena ayat di atas menunjukkan keumumannya) kepada siapapun, termasuk kepada para jomblo.

Imam at-Thabari rahimahullahu ta'ala dalam kitab Jaami'ul Bayan, beliau menjelaskan, “Allah menyebutkan secara umum larangan untuk mengejek orang lain, sehingga larangan ini mencakup seluruh bentuk ejekan. Tidak boleh seorang mukmin mengejek mukmin yang lain karena kemiskinannya, karena perbuatan dosa yang telah dilakukannya, dan yang lainnya”

Merupakan dosa besar tatkala seseorang mengejek orang lain, apalagi ejekan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang shalih, dan bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Jomblo Adalah Bentuk Takwa, Mengejeknya Merupakan Dosa Besar!

Dalam surat al-Hujurat di atas, Allah menegaskan bahwasanya yang di ejek bisa jadi lebih baik daripada yang mengejek. Dan benarlah, Demi Allah lebih baik jomblo dari pada yang berpacaran (dalam masalah ini). Maka, apa alasan kita untuk mengejek mereka yang sedang berusaha ta'at terhadap perintah-Nya? Jelas ejekan apapun terhadap status jomblo mereka adalah sebuah keharaman dan bernilai dosa.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan." (HR. Abu Daud)

Hargailah mereka, karena jalan mereka adalah jalan yang benar insyaaAllah. Bukan ejekan yang seharusnya mereka terima, tapi dukungan untuk tetap istiqomah, hingga mereka mampu menikah.

Nasehat Untuk Para Jomblo

Setiap hal mempunyai resiko, dan setiap pilihan mempunyai tanggung jawab. Tak peduli apa kata mereka yang senantiasa mengejekmu, menjadikanmu sebagai bahan candaan karena prinsip yang kau ambil. Ingatlah satu hal, bersabarlah. Dan hadapi semua itu dengan senyuman. Bukankah Nabi kita mengatakan, "Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya." (HR. Abu Daud)

Tidak ada alasan untukmu bersedih, karena apa yang kau pilih saat ini adalah yang terbaik. Tetaplah istiqomah, dan terus membawa perubahan. La tahzan, innallaha ma'ana (Jangan bersedih, Allah bersama kita).

- - - - - - -
Selesai ditulis pada pagi hari yang cerah di Panggul, Trenggalek, 29 Rajab 1439 H.
Penulis : Rizki Janata
Artikel MuslimBaper.web.id

Hukum Mengejek Jomblo, Haram atau Halal?

Jika Orang Tua Melarang Berjenggot - Seorang mualaf mengajukan pertanyaan kepada Dr. Zakir Naik, tentang bagaimana sikap yang harus ia lakukan terhadap ibunya yang melarang ia menumbuhkan jenggot. Sedangkan Ibu penanya adalah seorang non-muslim.

Berikut jawaban Dr. Zakir Naik :

MasyaaAllah, saudara tadi punya pertanyaan bagus.

Allah telah memberikannya hidayah, ia kini menjadi Muslim. Ia menyadari mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah adalah cara untuk masuk surga.

Setelah membaca hadits, ia pun mengikuti sunnah. Ia memakai peci dan memelihara jenggot.

Namun ibunya berkata, “Cukur jenggotmu! Lepas pecimu!”

Jika Orang Tua Melarang Berjenggot - MuslimBaper
"Potong jenggotmu!" via MuslimBaper.web.id

Apa yang harus dilakukan?

Dalam surat Luqman ayat 14 dijelaskan :

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسٰنَ بِوٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ ۥ  وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَفِصٰلُهُ ۥ  فِى عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِى وَلِوٰلِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu."
(QS. Luqman: 14)

Di ayat selanjutnya di sebutkan, surat Luqman ayat 15 :

وَإِنْ جٰهَدَاكَ عَلٰىٓ أَنْ تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا  ۖ  وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوفًا  ۖ  وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ  ۚ  ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
"Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
(QS. Luqman: 15)

Pesan yang  sama juga disebutkan dalam surat al-'Ankabut ayat 8 :

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسٰنَ بِوٰلِدَيْهِ حُسْنًا  ۖ  وَإِنْ جٰهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَآ  ۚ  إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
"Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
(QS. al-'Ankabut: 8)

Apa yang kita dapatkan dari Al-Qur’an dan Hadits shahih adalah perintah untuk menghormati dan menaati mereka. Namun, jika mereka menyuruhmu sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka pada kondisi itulah engkau bisa tidak menaati mereka, tapi tetaplah mencintai keduanya.

Catatan : 8 Jenis Manusia Beriman yang Dicintai Allah

Jika ia menyuruhmu memangkas jenggot, maka beritahukanlah padanya :

“Wahai Ibuku, Nabi yang tercinta telah bersabda seperti yang disebutkan dalam Shahih Bukhari, “Selisihilah orang musyrik. Pendekkanlah kumis dan biarkanlah jenggot.” Aku sedang mengikuti perintahnya.

Dan Nabi yang sama juga telah bersabda, “Surga berada di bawah telapak kakimu.” Ibu aku mencintaimu, aku peduli padamu, aku menghormatimu. Nabi yang sama juga telah bersabda, bahwa orang yang paling utama untuk kita berbuat baik adalah ibumu, lalu ibumu, kemudian ibumu. Jadi, jika aku berhenti mematuhinya, itu berarti aku pun berhenti mematuhimu.

Ibu aku mencintaimu, aku menghormatimu, aku mentaatimu, selama engkau tidak menyuruhku menentang orang yang mengajakku ke surga (adalah Nabi Muhammad).”

Itu semua tergantung bagaimana caramu menyampaikannya.

Jika sebelum masuk Islam, kau tidak mau patuh pada ibumu. Misalnya ia menyuruhmu memakai baju warna biru, “Ibu, aku tidak suka warna biru!” Namun, setelah engkau masuk Islam, “Ibu, aku ingin memakai baju warna biru.” (engkau mematuhinya). Maka ibumu akan berpikir, “Apa yang terjadi pada anakku? Sebelum masuk Islam ia sering membantahku, namun kini ia jadi penurut.”

Jadi apa yang dulu sering engkau bantah pada ibumu sebelum masuk Islam, setelah masuk Islam mulailah untuk mematuhinya selama tidak menentang Allah dan Rasul-Nya. Engkau harus berubah! Tambah kecintaanmu, engkau harus menghormatinya!

Antar dia ke kuil. Syirik itu haram, namun ketika ia pulang dari kuil, maka menjadi tugasmu untuk mengantarnya pulang. Karena kita mencintai dan menghormatinya, sekalipun dirinya belum menjadi Muslim. Surgamu, tetap berada di bawah telapak kakinya!

Ibumu mungkin tidak sampai ke surga, namun surga terkait perbuatanmu kepada ibumu.

Maka cintai dia, hormati dia, taati dia, selama tidak menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia harus melihat perubahan dalam kehidupanmu! Maka ia akan menghargaimu, menghormati agamamu, dan ia pun akan menerima ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artikel : Transkripsi video https://m.youtube.com/watch?v=94OTR57xBtA& (dengan pengubahan seperlunya)

Jika Orang Tua Melarang Berjenggot

Hati-hati! Ada Playboy Fii Sabilillah

Assalamu’alaikum

Sahabat Baperian, tidak asing lagi di telinga kita istilah jomblo fii sabilillah. Sudah banyak saudara kita atau bahkan kamu juga ikut mendeklarasikan status kejombloan bertitle fii sabilillah ini. Sebuah title yang bukan sembarang title, namun yang juga sebagai prinsip, pijakan, dan dayung dalam mengarungi arus jomblo di akhir zaman. (kok alay)

Playboy fii sabilillah - MuslimBaper.web.id
PlayBoy fii Sabilillah via MuslimBaper.web.id

Tapi, kamu juga harus tahu, sahabat, bahwa bukan hanya jomblo saja yang punya title fi sabilillah, tapi playboy pun juga tak mau kalah menggunakannya. Maka kemudian muncul istilah Playboy Fii Sabilillah.

Apa itu playboy fii sabilillah?

Sebenarnya tidak pantas kata fii sabilillah disandingkan dengan kata playboy, karena hakikatnya seorang playboy tidak mungkin berada di jalan Allah. Namun, berhubung istilah ini sudah dimunculkan dan menyebar di masyarakat kita, maka kita harus tahu apa hakikat dari gelaran buruk ini.

Baca juga :
Hakikat Pacaran dan Rahasia Dibaliknya

Sedikit berbeda dengan playboy pada umumnya, playboy fii sabilillah adalah istilah untuk para Ikhwan yang ‘katanya’ tahu agama, namun masih saja menjalin hubungan haram (pacaran) dengan para perempuan yang bukan haknya. Bukan hanya satu perempuan, tapi bisa dua atau bahkan lebih sebagaimana playboy pada umumnya.

Lalu apa perbedaanya?

Di sini mereka gunakan kata ‘fii sabilillah’, karena Ikhwan ini biasanya tidak mau menyebut hubungannya sebagai pacaran (padahal sebenarnya iya). Perempuan yang mereka dekati pun bukan perempuan biasa, tapi para akhwat yang rajin ta’lim, berhijab syar’i, ataupun yang baru hijrah.

Cara mendekatinya pun pakai teknik ‘syariah’, yaitu dengan quotes pernikahan, nasehat bijak, atau modus tanya kabar orang tua, dan lain sebagainya. Ketika awal PDKT, panggilannya hanya sekedar ‘Ukhty’, namun ketika semakin dekat dan sang akhwat sudah terjatuh dalam jebakannya, panggilannya pun berubah menjadi ‘Habibaty’, ‘Humaira’, atau bahkan ‘Zaujaty’. (padahal nikah aja belum)

Ciri-ciri playboy fii sabilillah

Ada beberapa cara untuk mendeteksi Ikhwan seperti ini, salah satunya dengan dilihat dari ciri-cirinya:

1. Dekat dengan banyak akhwat non mahram.
2. Sering memberikan quotes atau gombalan bernuansa Islami, misal tentang khitbah, nikah, atau tentang suami istri idaman kepada akhwat non mahram.
3. Tidak berani menikahi.
4. Mengumbar janji-janji manis.
5. Sering menanyakan kabar secara tidak langsung (lewat chat atau telepon) kepada akhwat non mahram.

Itulah beberapa ciri playboy fii sabilillah. Bahayanya, ikhwan seperti ini juga menyusup di ta’lim, atau komunitas Islam, dengan tujuan untuk mencari akhwat yang ia sukai. Dan praktik seperti ini jelas tidak dibenarkan, walau ada embel-embel fii sabilillah.

Maka, berhati-hatilah dari Ikhwan seperti ini. Dan untuk sahabat Ikhwan, jaga dirimu dari gelar buruk ini, karena Demi Allah ini tidak membuatmu terlihat tangguh, namun justru membuatmu rendah dan kehilangan kehormatan.

Wallahu a’lam
Wassalamu’alaikum

Hati-hati! Ada Playboy Fii Sabilillah

10 Prinsip Ini Mengantarkan Khadijah untuk Sukses Berkarir sebagai Seorang Muslimah

Assalamu'alaikum

Dear Muslimah,

Berbicara karir sebagai seorang muslimah, tidaklah bijak jika kita tidak melihat dari istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Khadijah binti Khuwailid. Khadijah adalah istri Nabi yang begitu istimewa. Ia adalah orang pertama yang menerima dakwah Rasulullah, dan turut setia mendukung dakwah suaminya dalam memperjuangkan agama Allah.

Prinsip Sukses Khadijah
Khadijah dan prinsip sukses via MuslimBaper.web.id

Tak hanya itu, keistimewaan lain dari Khadijah yang patut menjadi teladan untuk setiap muslimah adalah bagaimana cara ia meniti karir hingga bisa sukses, padahal status ia adalah sebagai seorang perempuan.

Khadijah memulai karir sebagai seorang pedagang, hingga pekerjaannya ini mengantarkan dia menjadi perempuan kaya raya di Makkah pada waktu itu. Lalu, bagaimana cara Khadijah dapat sukses berkarir seperti itu?

Baca juga : 6 Nilai Hidup Meraih Sukses di Usia Muda

Ia mempunyai 10 prinsip sukses dalam berkarir, dimana setiap muslimah harus membangun prinsip ini dalam pekerjaannya, agar dapat mengikuti jejak sukses Khadijah. Apa saja itu?

1. Prinsip Tauhid

Bunyi dari prinsip ini adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa dengan agama kita akan menjadi unggul. Khadijah membangun bisnisnya, dalam keyakinan yang kuat terhadap agamanya. Bahkan sebelum ia berjumpa dengan Rasulullah, ia adalah seorang yang berpaham monotheisme (mempercayai satu Tuhan). Sehingga tidak pernah dalam hidupnya ia menyembah berhala, seperti yang dilakukan masyarakat jahiliyyah pada waktu itu. Setelah berjumpa dengan Rasulullah, dan datang ajaran Islam, ia semakin memantapkan hatinya dan menumbuhkan nilai-nilai tauhid dalam setiap segi kehidupannya, termasuk dalam karirnya.

2. Prinsip Motivasi

Motivasi berguna sebagai pendorong, penyemangat, dan penentu skala prioritas. Khadijah memiliki 2 motivasi, yaitu motivasi horizontal dan vertikal. Motivasi horizontal adalah keinginannya untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada orang lain dengan bisnisnya itu. Terbukti bagaimana Khadijah menjadi seorang dinatur terhadap perkembangan dakwah Islam. Ia memberikan semua hartanya untuk kepentingan dakwah dan meyakini itu semua adalah kebermanfaatan yang begitu bernilai.

Adapun motivasi vertikal adalah mengabdikan diri dan bertawakal kepada Allah. Ia meyakini bahwa tanpa-Nya, sekeras apapaun ia berusaha dalam karirnya, ia tidak akan mampu untuk sukses. Maka kedua motivasi inilah yang terus memberi api semangat dan mindset positif untuk terus berjuang.

3. Prinsip Ibadah

Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56)

Ibadah adalah tujuan manusia diciptakan. Dan bagi Khadijah, karirnya adalah bentuk ibadah yang harus dimulai dengan niat yang suci (lillahi ta'ala), dengan cara yang benar dan tujuan yang terkonsep sebagai kebenaran pula. Bagi Khadijah,  berkarir dengan niat ibadah adalah garansi kesuksesan yang akan langsung diberikan oleh Allah untuk menjamin usahanya.

4. Prinsip Kejujuran

Khadijah menyadari bahwa untuk meraih sukses dalam berkarir, ia membutuhkan sebuah kejujuran dalam setiap langkahnya. Hingga sekarang, kejujuran adalah kata kunci yang harus dimiliki setiap pebisnis. Usaha yang dilakukan dengan jujur, akan memberikan hasil yang maksimal.

Rasulullah juga telah berpesan:
"Kejujuran akan membawa ketenangan, sementara ketidak jujuran akan membawa keragu-raguan." (HR. Turmudzi)

Muslimah Sukses
Seorang muslimah via PercikanIman.id

5. Prinsip Jiwa Bebas

Bagi Khadijah, rahmat dan rezeki Allah tidaklah terbatas sehingga cara untuk mencapainya pun begitu luas. Ia akan berusaha melakukan apa yang bisa ia lakukan, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Ia tidak takut untuk mencoba, dan selalu percaya bahwa usahanya tidaklah sia-sia.

6. Prinsip Hijrah

Hijrah merupakan salah satu strategi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang harus diteladani dan sangat cocok untuk diterapkan dalam dunia bisnis. Hijrah di sini bukan hanya dalam arti berpindah secara fisik, namun juga meninggalkan perbuatan yang dilarang serta berusaha untuk meningkatkan iman dan taqwa. Hijrah akan mendatangkan semangat dan peluang baru dalam berkarir.

Catatan : 3 Cara agar Istiqomah Berhijrah

Di dalam dunia bisnis, spirit hijrah dapat direfleksikan untuk mengetahui strategi pemasaran dan pembentukan konsep manajemen yang belum relevan dengan kondisi riil di lapangan. Luar biasa bukan? Itulah sebabnya Khadijah membangun prinsip ini di dalam dirinya.

7. Prinsip Dedikasi

Dedikasi dalam berkarir itu penting. Setiap karir harus mempunyai prinsip penting ini. Kita lihat bagaimana Khadijah, dalam sukses karirnya sebagai pedagang, ia selalu berusaha memberi manfaat, dan melayani konsumen atau orang-orang yang menaruh harapan kepadanya. Dedikasinya ia berikan untuk orang-orang yang berusaha membantu atau memajukan usahanya. Semuanya dilakukan dengan kesadaran bahwa apa yang dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Ta'ala.

8. Prinsip Silaturahim

Siapapun yang ingi  sukses berkarir harus senantiasa menjaga relasi dengan sering-sering bersilaturahim dengan mitra bisnis atau para konsumennya. Silaturahim selain untuk menjaga tali persaudaraan, juga bisa menjadi peluang bisnis baru yang menjanjikan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Siapa yang ingin murah rezekinya dan panjang umurnya, maka hendaklah ia mempererat hubungan silaturahim." (HR. Bukhari)

Dalam terminologi ajaran tauhid Khadijah, tidak ada istilah 'musuh bisnis', namun yang ada adalah mitra bisnis yang perlu disikapi dengan jujur dan semangat fastabiqul khairat.

9. Prinsip Beramal

Khadijah memiliki jiwa sosial yang begitu tinggi. Bahkan usaha daganngnya semata-mata ia lakukan untuk dakwah Islam. Keuntungan yang ia dapat dalam bisnisnya, senantiasa ia bagi kepada orang-orang yang membutuhkan, karena ia tahu bahwa, pada rezeki yang ia dapat ada rezeki orang lain di dalamnya.

10. Prinsip Tanggung Jawab

Karir Khadijah tidak pernah membuat ia lupa akan tanggung jawab ia sebagai muslimah juga sebagai seorang istri. Tetap ia prioritaskan tanggung jawabnya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya, dan juga tanggung jawabnya sebagai seorang muslimah yang taat, sehingga dalam praktik karirnya ia senantiasa di dalam kaidah-kaidah Islam, seperti senantiasa menjaga kewajiban untuk memakai hijab.

Silahkan baca : Bukti Hijab Kunci Sukses Berkarir

Prinsip itulah yang akan menjaga setiap muslimah dalam berkarir, agar tidak 'kebablasan' dan melalaikan tanggung jawabnya, sehingga karir yang dimulai dengan kesadaran seperti ini, insyaaAllah akan memberikan sukses dan keberkahan.

Itulah 10 prinsip sukses dari Khadijah. Miliki prinsip itu, Muslimah, dan jadilah generasi Khadijah berikutnya!

Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum

Sumber referensi : The Secret of Success Khadijah karya Achmad Djunaidi & Thobieb Al Asyhar

10 Prinsip Ini Mengantarkan Khadijah untuk Sukses Berkarir sebagai Seorang Muslimah

Muslimah Bercadar, Bentuk Ketidakwajaran dalam Beragama

Assalamu'alaikum

Dear Muslimah,

Sebelumnya mohon jangan salah paham muslimah, tulisan ini bukan untuk memojokkan para muslimah yang bercadar. Sama sekali tidak. Malah justru sebaliknya, tulisan ini adalah sebagai klarifikasi dan pembelaan terhadap statement sebagian orang yang mengatakan cadar sebagai hal yang aneh, ekstrimis, dan sikap berlebih-lebihan serta ketidakwajaran dalam beragama. Wallahi,  mereka mengatakan seperti itu hanya karena mereka belum paham hakikat cadar yang sesungguhnya.

www.muslimbaper.web.id

Hakikat Cadar yang Sesungguhnya

Jika ada yang mengatakan cadar adalah budaya Arab, itu adalah kesalahan besar. Cadar bukanlah budaya Arab, bukan pula budaya wanita berhaluan kanan (ekstrimis). Tapi itu adalah sunnah, yang setiap muslimah dimanapun ia berada berhak untuk memakainya. Para sahabiah pun sejak zaman nabi sudah memakai cadar untuk menutupi wajahnya. Karena sekali lagi ini adalah sunnah, sehingga bernilai pahala bagi yang menjaganya.

Lalu kemudian muncul pertanyaan, kenapa disunnahkan bercadar, padahal wajah bukan termasuk aurat?

Memang benar, jumhur ulama berpendapat bahwa wajah perempuan bukan termasuk aurat, sebagaimana hadits berikut:
Sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini ”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud) 

Tapi perlu diingat, bahwa meskipun wajah bukan termasuk aurat, tapi ia adalah sumber fitnah yang begitu besar. Jika engkau tidak percaya, tanyakan kepada para laki-laki di luar sana, tatkala ia merasa tertarik dengan perempuan, apa penyebabnya? Sebagian besar pasti menjawab karena wajahnya. Maka muslimah disunnahkan bercadar, karena wajahnya adalah bahaya fitnah yang begitu dahsyat, sehingga dengan cadarnya insyaaAllah ia akan mampu menutup fitnah yang bisa saja ia timbulkan.

Imam Muhammad 'Alauddin mengatakan:

“Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki. ” ( Ad Durr Al Muntaqa, 81)
Kemudian, mungkin akan ada yang mengatakan bahwa sunnah bercadar adalah pendapatnya madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali, bukan madzhab Syafi'i. Sehingga ia teguh menolak cadar dengan alasan ia pengikut madzhab Syafi'i. Benarkah demikian?

Ini juga merupakan kesalahan besar, yang juga efek dari ketidaktahuan dalam masalah fiqih madzhab. Benar jika dikatakan bahwa madzhab Hanafi, Maliki, dan Hambali berpendapat cadar itu sunnah (namun berubah menjadi wajib apabila wajahnya berkemungkinan besar menimbulkan fitnah). Iya, itu benar. Lalu, jika dikatakan bahwa madzhab Syafi'i tidak menyunahkan cadar, itu juga bisa dibilang benar. Karena madzhab Syafi'i dalam pendapatnya yang mu'tamad, bukan hanya menyunahkan tapi justru mewajibkan cadar bagi setiap muslimah yang berhadapan dengan laki-laki ajnabi (non-mahram), bagaimanapun wajahnya. Jadi, sangat aneh jika mereka menolak cadar dengan alasan madzhab Syafi'i, yang mana justru mewajibkannya.

Berikut penjelasan As-Syarwani, salah satu ulama masyhur dalam madzhab Syafi'i:

“Wanita memiliki tiga jenis aurat, pertama: aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, kedua:  aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad , ketiga:  aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha” ( Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj) 

Kesimpulan

Berdasarkan keterangan di atas, cadar bukanlah budaya Arab, bukan ciri-ciri teroris, bukan pula refleksi dari ketidakwajaran dan ekstrim dalam beragama. Namun, cadar adalah sunnah, yang akan memancarkan cahaya kemuliaan bagi muslimah yang memakainya. Biarkan mereka yang membenci sunnah mencela, dan berusaha keras untuk menjatuhkan eksistensi cadar dalam agama Islam, karena pasti akan sia-sia usaha mereka, dan Allah Maha Tahu, mana yang benar dan mana yang salah.

Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum

Muslimah Bercadar, Bentuk Ketidakwajaran dalam Beragama

Muslimah, Jangan Lupa Kaos Kakimu!

Assalamu’alaikum

Dear Muslimah,

Menutup aurat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Kewajiban yang kita yakin setiap umat Islam sudah dididik untuk memakainya sedari kecil. Seperti halnya kewajiban shalat  lima waktu, menutup aurat pun diwajibkan atas kita di setiap waktu dan di setiap tempat dimana kita berhadapan dengan yang bukan mahram kita. Termasuk yang wajib menutup aurat ialah engkau seorang Muslimah.

www.muslimbaper.web.id

Alhamdulillah, banyak saudari-saudari kita yang sudah istiqomah untuk menjalankan kewajiban ini. Hijabnya tak lupa selalu ia pakai, dan senantiasa ia jaga kemanapun ia pergi. Namun, banyak sekali muslimah yang sudah menutup auratnya dengan hijab, tapi melupakan satu hal yang begitu penting, yaitu kaos kaki.

Kewajiban Memakai Kaos Kaki

Ketika kita bertanya tentang apa saja yang menjadi aurat perempuan, pasti kita mendapat jawaban bahwa aurat perempuan ialah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Iya, ini adalah jawaban yang benar, sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan:

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah
shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini ”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud)

Dari sini jelas, bahwa aurat perempuan seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Dan ini juga berarti kaki termasuk qadam (pergelangan kaki ke bawah) juga termasuk aurat yang wajib ditutup. Bahkan ada sebagian ulama (dari Madzhab Hambali dan sebagian dari Madzhab Syaafi’i) yang berpendapat bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat, termasuk wajah dan telapak tangannya.

Mari kita pahami sejenak hadits berikut:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda mengenai masalah menjulurkan ujung pakaian, aku berkata kepada beliau, ‘wahai Rasulullah bagaimana dengan kami (kaum wanita)?’. Nabi menjawab: ‘julurkanlah sejengkal ‘. Lalu Ummu Salamah bertanya lagi: ‘kalau begitu kedua qadam (bagian bawah kaki) akan terlihat?’. Nabi bersabda: ‘kalau begitu julurkanlah sehasta‘. (HR. Ahmad)

Syaikh al-Albani menjelaskan:

"Hadits ini dalil bahwa kedua qadam wanita adalah aurat . Dan ini merupakan perkara yang sudah diketahui oleh para wanita di masa Nabi. Buktinya ketika Nabi mengatakan: ‘julurkanlah sejengkal ‘, Ummu Salamah berkata: ‘kalau begitu kedua qadam (bagian bawah kaki) akan terlihat? ‘, menunjukkan kesan bahwa Ummu Salamah sebelumnya sudah mengetahui bahwa kedua bagian bawah kaki adalah aurat yang tidak boleh dibuka. Dan hal itu disetujui oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Oleh karena itu beliau memerintahkan untuk memanjangkan kainnya sehasta." (Silsilah Ash Shahihah)

Muslimah, dari keterangan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa al-qadam (bagian bawah kaki) adalah termasuk aurat. Maka wajib bagi setiap muslimah untuk menutupnya. Lalu, dengan apa qadam harus di tutup?

Jika engkau mempunyai pakaian yang panjang hingga bawah kaki, itu bisa digunakan untuk menutupi qadam, namun tetap di anjurkan untuk memakai kaos kaki karena bisa jadi pakaianmu tesingkap sehingga qadamu akan terlihat. Akan tetapi, jika engkau tidak memilik pakaian panjang yang mampu menutupi qadam, maka diwajibkan bagimu untuk memakai kaos kaki. Sebagai catatan, kaos kaki hanya mampu menutupi qadam (dari pergelangan kaki sampai bawah), yang berarti untuk diatas qadam tetap wajib ditutupi dengan pakaian, dan tidak cukup hanya dengan kaos kaki.

Muslimah, mungkin engkau merasa ini begitu memberatkan, ribet, dan terlihat aneh. Tapi, tatkala engkau bisa menjalankan kewajibanmu ini, maka yakinlah engkau akan dapat merasakan manisnya iman, walau terasa pahit di awal. Maka biasakan sedari sekarang muslimah dan tetaplah istiqomah!

Wallahu a'lam
Wassalamu'alaikum

Muslimah, Jangan Lupa Kaos Kakimu!